Sebagai pelajar yang baru saja menjalani UNAS, saya justru
punya banyak pertanyaan yang saya pendam dalam hati saya. Banyak beban
pikiran yang ingin saya utarakan kepada Bapak Menteri Pendidikan. Tapi
tenang saja, Bapak tidak perlu menjadi pembaca pikiran untuk tahu semua
itu, karena saya akan menceritakannya sedikit demi sedikit di sini. Dari
berbagai kekalutan dan tanda tanya yang menyesaki otak sempit saya,
saya merumuskannya menjadi tiga poin penting...
Pertama, tentang kesamarataan bobot pertanyaan-pertanyaan UNAS, yang tahun ini Alhamdulillah ada dua puluh paket.
Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat... pernah tidak terpikir oleh
Bapak bagaimana caranya seorang guru Bahasa Indonesia bisa membuat 20
soal yang berbeda, dengan tingkat kesulitan yang sama, untuk satu SKL
saja? Pernah tidak terpikir oleh Bapak bagaimana caranya seorang guru
Biologi membuat 20 soal yang berbeda, dengan taraf kesulitan yang sama,
hanya untuk satu indikator 'menjelaskan fungsi organel sel pada tumbuhan
dan hewan'?
Menurut otak sempit saya, sejujurnya, itu mustahil.
Mau tidak mau akan ada satu tipe soal yang memuat pertanyaan dengan
bobot lebih susah dari tipe lain. Hal ini jelas tidak adil untuk siswa
yang kebetulan apes, kebetulan mendapatkan tipe dengan soal susah
sedemikian itu. Sebab orang tidak akan pernah peduli apakah soal yang
saya terima lebih susah dari si A atau tidak. Manusia itu makhluk yang
seringkali terpaku pada niai akhir, Pak. Orang tidak akan pernah
bertanya, 'tipe soalmu ada berapa nomor yang susah?' melainkan akan
langsung bertanya, 'nilai UNASmu berapa?'.
Bapak Menteri
Pendidikan yang terhormat, di sini Bapak akan beralasan, barangkali,
bahwa jika siswa sudah belajar, maka sesusah apapun soalnya tidak akan
bermasalah. Tapi coba ingat kembali, Pak, apa sih tujuan diadakannya
Ujian Nasional itu? Membuat sebuah standard untuk mengevaluasi siswa
Indonesia, 'kan? Untuk menetapkan sebuah garis yang akan jadi acuan
bersama, 'kan? Sekarang, bagaimana bisa UNAS dijadikan patokan nasional
saat antar paket saja ada ketidakmerataan bobot soal? Ini belum tentang
ketidakmerataan pendidikan antar daerah, lho, Pak.
Kedua, tentang pertanyaan-pertanyaan UNAS tahun ini, yang, menurut saya, menyimpang dari SKL.
Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, saya tahu Bapak sudah
mengklarifikasinya di twitter, bahwa soal tahun ini bobot kesulitannya
di naikkan sedikit (saya tertawa miris di bagian kata 'sedikit' ini).
Tapi, aduh, jujur saya bingung juga Pak bagaimana menanggapinya.
Pertama, bobot soal kami dinaikkan hanya sampai standard Internasional.
Kedua, konfirmasi itu Bapak sampaikan setelah UNAS selesai. Saya jadi
paham kenapa di sekolah saya disiapkan tabung oksigen selama pelaksanaan
UNAS. Mungkin sekolah khawatir kami pingsan saking bahagianya menemui
soal-soal itu, 'kan?
Bapak, saya tidak mengerti, benar-benar
tidak mengerti... apa yang ada di pikiran Bapak-Bapak semua saat
membuat, menyusun, dan mencetak soal-soal itu? Bapak mengatakan di
twitter Bapak, 'tiap tahun selalu ada keluhan siswa karena soal yang
baru'. Tapi, Pak, sekali ini saja... sekali ini saja saya mohon, Bapak
duduk dengan santai, kumpulkan contoh soal UNAS tahun dua ribu sebelas,
dua ribu dua belas, dua ribu tiga belas, dan dua ribu empat belas.
Dengan kepala dingin coba Bapak bandingkan, perbedaan tingkat kesulitan
dua ribu sebelas dengan dua ribu dua belas seperti apa. Perbedaan bobot
dua ribu dua belas dengan dua ribu tiga belas seperti apa. Dan pada
akhirnya, coba perhatikan dan kaji baik-baik, perbedaan tipe dan taraf
kerumitan soal dua ribu tiga belas dengan dua ribu empat belas itu
seperti apa.
Kalau Bapak masih merasa tidak ada yang salah dengan
soal-soal itu, saya ceritai sesuatu deh Pak. Bapak tahu tidak, saat
hari kedua UNAS, saya sempat mengingat-ingat dua soal Matematika yang
tidak saya bisa. Saya ingat-ingat sampai ke pilihan jawabannya
sekalipun. Kemudian, setelah UNAS selesai, saya pergi menghadap ke guru
Matematika saya untuk menanyakan dua soal itu. Saya tuliskan ke selembar
kertas, saya serahkan ke beliau dan saya tunggu. Lalu, hasilnya? Guru
Matematika saya menggelengkan kepalanya setelah berkutat dengan dua soal
itu selama sepuluh menit. Ya... beliau bilang ada yang salah dengan
kedua soal itu. Tetapi yang ada di kepala saya hanya
pertanyaan-pertanyaan heran...
Bagaimana bisa Bapak menyuruh saya menjawab sesuatu yang guru saya saja belum tentu bisa menjawabnya?
Tidak diuji dulukah kevalidan soal-soal UNAS itu?
Bapak ujikan ke siapa soal-soal itu? Para dosen perguruan tinggi? Mahasiswa-mahasiswa semester enam?
Lupakah Bapak bahwa nanti yang akan menghadapi soal-soal itu adalah kami, para pelajar kelas tiga SMA dari seluruh Indonesia?
Haruskah saya ingatkan lagi kepada Bapak bahwa di Indonesia ini masih
ada banyak sekolah-sekolah yang jangankan mencicipi soal berstandard
Internasional, dilengkapi dengan fasilitas pengajaran yang layak saja
sudah sujud syukur?
Etiskah menuntut sebelum memberi?
Etiskah memberi kami soal berstandard Internasional di saat Bapak belum
mampu memastikan bahwa seluruh Indonesia ini siap untuk soal setingkat
itu?
Pada bagian ini, Bapak mungkin akan teringat dengan berita,
'Pelajar Mengatakan bahwa UNAS Menyenangkan'. Kemudian Bapak akan merasa
tidak percaya dengan semua yang sudah saya katakan. Kalau sudah begitu,
itu hak Bapak. Saya sendiri juga tidak percaya kenapa ada yang bisa
mengatakan bahwa UNAS kemarin menyenangkan. Awalnya saya malah mengira
bahwa itu sarkasme, sebab sejujurnya, tidak sedikit teman-teman saya
yang menangis sesudah mengerjakan Biologi. Mereka menangis lagi setelah
Matematika dan Kimia. Lalu airmata mereka juga masih keluar seusai
mengerjakan Fisika. Sekarang, di mana letak 'UNAS menyenangkan' itu?
Bagi saya, hanya ada dua jawabannya; antara narasumber berita itu memang
sangat pintar, atau dia menempuh jalan pintas...
Jalan pintas
itu adalah hal ketiga yang menganggu pikiran saya selama UNAS ini.
Sebuah bentuk kecurangan yang tidak pernah saya pahami mengapa bisa
terjadi, yaitu joki.
Mengapa saya tidak paham joki itu bisa
terjadi? Sebab, setiap tahun pemerintah selalu gembar-gembor bahwa "Soal
UNAS aman! Tidak akan bocor! Pasti terjamin steril dan bersih!", tetapi
ketika hari H pelaksanaan... voila! Ada saja joki yang jawabannya
tembus. Jika bocor itu paling-paling hanya lima puluh persen benar, ini
ada joki yang bisa sampai sembilan puluh persen akurat. Sembilan puluh
persen! Astaghfirullah hal adzim, itu bukan bocor lagi namanya,
melainkan banjir. Kemudian ajaibnya pula, yang sudah dilakukan
pemerintah untuk menanggulangi hal ini sepanjang yang saya lihat baru
satu: menambah tipe soal! Kalau sewaktu saya SD dulu tipe UNAS hanya
satu, sewaktu SMP beranak-pinak menjadi lima. Puncaknya sewaktu SMA ini,
berkembang-biak menjadi 20 paket soal. Pemerintah agaknya menganggap
bahwa banyaknya paket soal akan membuat jawaban joki meleset dan UNAS
dapat berjalan mulus, murni, bersih, sebersih pakaian yang dicuci pakai
detergen mahal.
Iya langsung bersih cling begitu, toh?
Nyatanya tidak.
Sekalipun dengan 20 paket soal, joki-joki itu rupanya masih bisa
memprediksi soal sekaligus jawabannya. Peningkatan jumlah paket itu
hanya membuat tarif mereka makin naik. Setahu saya, mereka bahkan bisa
menyertakan kalimat pertama untuk empat nomor tententu di tiap paket
agar para siswa bisa mencari yang mana paket mereka. Lho, kok bisa? Ya
entah. Tidak sampai di sana, jawaban yang mereka berikan pun bisa tembus
sampai di atas sembilan puluh persen. Lho, kok bisa? Ya sekali lagi,
entah. Seperti yang saya bilang, kalau sudah sampai sembilan puluh
persen akurat begitu bukan bocor lagi namanya, melainkan banjir bandang.
Saat joki sudah bisa menyertakan soal, bukan hanya jawaban, maka adalah
sebuah misteri Ilahi jika pemerintah masih sanggup bersumpah tidak ada
main-main dari pihak dalam.
Bapak Menteri Pendidikan yang
terhormat, saya memang hanya pelajar biasa. Tapi saya juga bisa
membedakan mana jawaban yang mengandalkan dukun dan mana jawaban yang
didapat karena sempat melihat soal. Apa salah kalau akhirnya saya
mempertanyakan kredibilitas tim penyusun dan pencetak soal? Sebab jujur
saja, air hujan tidak akan menetesi lantai rumah jika tidak ada
kebocoran di atapnya.
Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat...
tiga hal yang saya paparkan di atas sudah sejak lama menggumpal di hati
dan pikiran saya, menggedor-gedor batas kemampuan saya, menekan
keyakinan dan iman saya.
Pernah terpikirkah oleh Bapak, bahwa
tingkat soal yang sedemikian inilah yang memacu kami, para pelajar,
untuk berbuat curang? Jika tidak... saya beritahu satu hal, Pak. Ada
beberapa teman saya yang tadinya bertekad untuk jujur. Mereka belajar
mati-matian, memfokuskan diri pada materi yang diajarkan oleh para guru,
dan berdoa dengan khusyuk. Tetapi setelah melihat soal yang tidak
berperikesiswaan itu, tekad mereka luruh. Saat dihadapkan pada soal yang
belum pernah mereka lihat sebelumnya itu, mereka runtuh. Mereka
menangis, Pak. Apa kesalahan mereka sehingga mereka pantas untuk dibuat
menangis bahkan setelah mereka berusaha keras? Beberapa dari mereka
terpaksa mengintip jawaban yang disebar teman-teman, karena dihantui
oleh perasaan takut tidak lulus. Beberapa lainnya hanya bisa bertahan
dalam diam, menggenggam semangat mereka untuk jujur, berdoa di antara
airmata mereka... berharap Tuhan membantu.
Saya tidak bisa
sepenuhnya menyalahkan teman-teman yang terpaksa curang setelah mereka
belajar tetapi soal yang keluar seperti itu. Kami mengemban harapan dan
angan yang tak sedikit di pundak kami, Pak. Harapan guru. Harapan
sekolah. Harapan orangtua. Semakin jujur kami, semakin berat beban itu.
Sebelum sampai di gerbang UNAS, kami telah melewati ulangan sekolah,
ulangan praktek, dan berbagai ulangan lainnya. Tenaga, biaya, dan
pikiran kami sudah banyak terkuras. Tetapi saat kami menggenggam harapan
dan doa, apa yang Bapak hadapkan pada kami? Soal-soal yang menurut para
penyusunnya sendiri memuat soal OSN. Yang benar saja, Pak. Saya tantang
Bapak untuk duduk dan mengerjakan soal Matematika yang kami dapat di
UNAS kemarin selama dua jam tanpa melihat buku maupun internet. Jika
Bapak bisa menjawab benar lima puluh persen saja, Bapak saya akui pantas
menjadi Menteri. Kalau Bapak berdalih 'ah, ini bukan bidang saya',
lantas Bapak anggap kami ini apa? Apa Bapak kira kami semua ini anak
OSN? Apa Bapak kira kami semua pintar di Matematika, Fisika, Biologi,
Kimia, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris sekaligus? Teganya Bapak
menyuruh kami untuk lulus di semua bidang itu? Sudah sepercaya itukah
Bapak pada kecerdasan kami?
Tidak.
Tentu saja Bapak tidak
sepercaya itu pada kami. Sebab jika Bapak percaya, Bapak tidak akan
sampai terpikir untuk membuat dua puluh paket soal, padahal lima paket
saja belum tentu bobot soal kelima paket itu seratus persen sama. Jika
Bapak percaya, Bapak tidak akan sengaja meletakkan persentase UNAS di
atas persentase nilai sekolah untuk nilai akhir kami, padahal belum
tentu kemurnian nilai UNAS itu di atas kemurnian nilai sekolah. Jika
Bapak percaya, Bapak tidak akan merasa perlu untuk melakukan sidak. Jika
Bapak percaya... mungkin Bapak bahkan tidak akan merasa perlu untuk
mengadakan UNAS.
.........
.........
.........
Anda akan mengatakan kalimat klise itu, Pak, bahwa nilai itu tidak penting, yang penting itu kejujuran.
Tapi tahukah, bahwa kebijakan Bapak sangat kontradiktif dengan
kata-kata Bapak itu? Bapak memasukkan nilai UNAS sebagai pertimbangan
SNMPTN Undangan. Bapak meletakkan bobot UNAS (yang hanya berlangsung
tiga hari tanpa jaminan bahwa siswa yang menjalani berada dalam kondisi
optimalnya) di atas bobot nilai sekolah (yang selama tiga tahun sudah
susah payah kami perjuangkan) dalam rumus nilai akhir kami. Bapak secara
tidak langsung menekankan bahwa UNAS itu penting, dan itulah
kenyataannya, Pak. Itulah kenyataan yang membuat kami, para pelajar,
goyah. Takut. Tertekan. Tahukah Bapak bahwa kepercayaan diri siswa mudah
hancur? Pertahanan kami semakin remuk ketika kami dihadapkan oleh soal
yang berada di luar pengalaman kami. Pernahkah Bapak pikirkan ini
sebelumnya? Bahwa soal yang di luar kemampuan kami, soal yang luput
Bapak sosialisasikan kepada kami meskipun persiapan UNAS tidak hanya
satu-dua minggu dan Bapak sebetulnya punya banyak kesempatan jika saja
Bapak mau, sesungguhnya bisa membuat kami mengalami mental breakdown
yang sangat kuat? Pernahkah Bapak pikirkan ini sebelum memutuskan untuk
mengeluarkan soal-soal tidak berperikesiswaan itu dalam UNAS, yang
notabene adalah penentu kelulusan kami?
Pada akhirnya, Pak,
izinkan saya untuk mengatakan, bahwa apa yang sudah Bapak lakukan sejauh
ini tentang UNAS justru hanya membuat kecurangan semakin merebak. Bapak
dan orang-orang dewasa lainnya sering mengatakan bahwa kami adalah
remaja yang masih labil. Masih dalam proses pencarian jati diri. Sering
bertingkah tidak tahu diri, melanggar norma, dan berbuat onar. Tapi
tahukah, ketika seharusnya Bapak selaku orangtua kami memberikan kami
petunjuk ke jalan yang baik, apa yang Bapak lakukan dengan UNAS selama
tiga hari ini justru mengarahkan kami kepada jati diri yang buruk.
Tingkat kesulitan yang belum pernah disosialisasikan ke siswa, joki yang
tidak pernah diusut sampai tuntas letak kebocorannya, paket soal yang
belum jelas kesamarataan bobotnya, semua itu justru mengarahkan kami,
para siswa, untuk mengambil jalan pintas. Sekolah pun ditekan oleh
target lulus seratus persen, sehingga mereka diam menghadapi fenomena
itu alih-alih menentang keras. Para pendidik terdiam ketika seharusnya
mereka berteriak lantang menentang dusta. Kalau perlu, sekalian jalin
kesepakatan dengan sekolah lain yang kebetulan menjadi pengawas, agar
anak didiknya tidak dipersulit.
Sampai sini, masih beranikah
Bapak katakan bahwa tidak ada yang salah dengan UNAS? Ada yang salah,
Pak. Ada lubang yang menganga sangat besar tidak hanya pada UNAS tetapi
juga pada sistem pendidikan di negeri ini. Siapa yang salah? Barangkali
sekolah yang salah, karena telah membiarkan kami untuk menyeberang di
jalur yang tak benar. Barangkali kami yang salah, karena kami terlalu
pengecut untuk mempertahankan kejujuran. Barangkali joki-joki itu yang
salah, karena mereka menjual kecurangan dan melecehkan ilmu untuk
mendapat uang.
Tapi tidak salah jugakah pemerintah? Tidak salah
jugakah tim penyusun UNAS? Tidak salah jugakah tim pencetak UNAS? Ingat
Pak, kejahatan terjadi karena ada kesempatan. Bukankah sudah menjadi
tugas Bapak selaku yang berwenang untuk memastikan bahwa kesempatan
untuk berlaku curang itu tidak ada?
Mungkin Bapak tidak akan percaya pada saya, dan Bapak akan berkata, "Kita lihat saja hasilnya nanti."
Kemudian sebulan lagi ketika hasil yang keluar membahagiakan, ketika
angka delapan dan sembilan bertebaran di mana-mana, Bapak akan melupakan
semua protes yang saya sampaikan. Bapak akan menganggap ini semua angin
lalu. Bapak akan berpesta di atas grafik indah itu, menggelar ucapan
selamat kepada mereka yang lulus, kepada tim UNAS, kepada diri Bapak
sendiri, dan Bapak akan lupa. Bapak yang saya yakin sudah berkali-kali
mendengar pepatah 'don't judge a book by its cover', akan lupa untuk
melihat ke balik kover indah itu. Bapak akan melupakan kemungkinan bahwa
yang Bapak lihat itu adalah hasil kerja para 'ghost writer UNAS'. Bapak
akan lupa untuk bertanya kepada diri Bapak, berapa persen dari grafik
itu yang mengerjakan dengan jujur? Kemudian Bapak akan memutuskan bahwa
Indonesia sudah siap dengan UNAS berstandard Internasional, padahal
kenyataannya belum. Joki-jokinyalah yang sudah siap, bukan kami.
Mengerikan bukan, Pak, efek dari tidak terusut tuntasnya joki di negeri
ini? Mengerikan bukan, Pak, ketika kebohongan menjelma menjadi kebenaran
semu?
Bapak, tiga hari ini, kami yang jujur sudah menelan pil
pahit. Pil pahit karena ketika kami berusaha begitu keras, beberapa
teman kami dengan nyamannya tertidur pulas karena sudah mendapat wangsit
sebelum ulangan. Pil pahit karena ketika kami masih harus berjuang
menjawab beberapa soal di waktu yang semakin sempit, beberapa teman kami
membuat keributan dengan santai, sedangkan para pengawas terlalu takut
untuk menegur karena sudah ada perjanjian antar sekolah. Pil pahit,
karena kami tidak tahu hasil apa yang akan kami terima nanti, apakah
kami bisa tersenyum, ataukah harus menangis lagi...
Berhentilah
bersembunyi di balik kata-kata, "Saya percaya masih ada yang jujur di
generasi muda kita". Ya ampun Pak, kalau hanya itu saya juga percaya.
Tetapi masalahnya bukan ada atau tidak ada, melainkan berapa, dan
banyakan yang mana? Sebab yang akan Bapak lihat di grafik itu adalah
grafik mayoritas. Bagaimana jika mayoritas justru yang tidak jujur, Pak?
Cobalah, untuk kali ini saja tanyakan ke dalam hati Bapak, berapa
persen siswa yang bisa dijamin jujur dalam UNAS, dibandingkan dengan
yang hanya jujur di atas kertas?
(Ngomong-ngomong, Pak, banyak
dosa bisa menyebabkan negara celaka. Kalau mau membantu mengurangi dosa
masyarakat Indonesia, saya punya satu usul efektif. Hapuskan kolom 'saya
mengerjakan ujian dengan jujur' dari lembar jawaban UNAS.)
UNAS
bukan hal remeh, Pak, sama sekali bukan; terutama ketika hasilnya
dijadikan parameter kelulusan siswa, parameter hasil belajar tiga tahun,
sekaligus pertimbangan layak tidaknya kami untuk masuk universitas
tujuan kami. Jika derajat UNAS diletakkan setinggi itu, mestinya
kredibilitas UNAS juga dijunjung tinggi pula. Mestinya tak ada cerita
tentang soal bocor, bobot tidak merata, dan tingkat kesulitan luput
disosialisasikan ke siswa.
Kejujuran itu awalnya sakit, tapi buahnya manis.
Dan saya tahu itu, Pak.
Tapi bukankah Pengadilan Negeri tetap ada meski kita semua tahu keadilan pasti akan menang?
Bukankah satuan kepolisian masih terus merekrut polisi-polisi baru meski kita semua tahu kebenaran pasti akan menang?
Dan bukankah itu tugas Bapak dan instansi-instansi pendidikan, untuk
menunjukkan pada kami, para generasi muda, bahwa kejujuran itu layak
untuk dicoba dan tidak mustahil untuk dilakukan?
Kejujuran itu awalnya sakit, buahnya manis.
Tapi itu bukan alasan bagi Bapak untuk menutup mata terhadap kecurangan yang terjadi di wilayah kewenangan Bapak.
Kami yang berusaha jujur masih belum tahu bagaimana nasib nilai UNAS
kami, Pak. Tapi barangkali hal itu terlalu remeh jika dibandingkan
dengan urusan Bapak Menteri yang bejibun dan jauh lebih berbobot. Maka
permintaan saya mewakili teman-teman pelajar cuma satu; tolong,
perbaikilah UNAS, perbaikilah sistem pendidikan di negeri ini, dan
kembalikan sekolah yang kami kenal. Sekolah yang mengajarkan pada kami
bahwa kejujuran itu adalah segalanya. Sekolah yang tidak akan diam saat
melihat kadernya melakukan tindak kecurangan. Kami mulai kehilangan
arah, Pak. Kami mulai tidak tahu kepada siapa lagi kami harus percaya.
Kepada siapa lagi kami harus mencari kejujuran, ketika lembaga yang
mengajarkannya justru diam membisu ketika saat untuk mengamalkannya
tiba...
Dari anakmu yang meredam sakit,
Pelajar yang baru saja mengikuti UNAS.