Pages

kutipan surat cinta pak habibie untuk ibunda ainun

kutipan surat cinta pak habibie untuk ibunda ainun

      Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu.  Bukan itu ... Karena aku tahu bahwa semua yg ada pasti menjadi tiada pada ...

0 Comments
selamat hari ibu

selamat hari ibu

i love you so much MOM.. you're my everything :* dede sayaaaang Mama' 22 Desember 2012

0 Comments
ta'aruf

ta'aruf

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan laki – laki dan perempuan serta menjadikan rasa kasih dan sayang di antara keduanya d...

0 Comments

lukisan-MU

Bila kerikil pantai, telah berubah menjadi permata. . Mungkin lautan tak lagi bimbang,bahkan teriak mesra.. menerawang jauh d atas derma...

0 Comments

lukisan-MU

Bila kerikil pantai, telah berubah menjadi permata. . Mungkin lautan tak lagi bimbang,bahkan teriak mesra.. menerawang jauh d atas derma...

0 Comments

Subuh ini, malas mengguyurku. Terasa berat kakiku untuk beranjak dari tempat tidurku yang renta ini. Dengan mata sedikit masih terpejam, ak...

0 Comments

My Star is You

Dingin malam ini, sangat menusuk sampai ketulangku, tapi itu tidak membuatku beranjak dari tempat duduk ku yaitu diteras rumah yang biasa m...

0 Comments

Selasa, 25 Desember 2012

kutipan surat cinta pak habibie untuk ibunda ainun

Diposting oleh yayan nurlian di 22.26 0 komentar
 
 
 

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu. 
Bukan itu ...
Karena aku tahu bahwa semua yg ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti , dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi.
Aku sangat tahu itu, tapi yg membuatku tersentak sedemikian hebat adalah kenyataan bahwa kematian benar2 dapat memutuskan kebhagiaan diri seseorang, sekejap saja.
Lalu rasany mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yg tiba2 hilang berganti kemarau gersang.
Pada air mata yg jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang.
Pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada.
Aku bukan hendak mengeluh tapi rasany terlalu sebentar kau disini .
Mereka mengira akulah kekasih terbaik bagimu sayang. Tanpa mereka sadari bahwa kaulah yg menjadikan aku kekasih yg baik.
Mana mgkin aku setia pdhal memang kecendrunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan,
kau dari-NYA dan kembali pada-NYA .
Kau dulu tiada untkku, dan skrg kmbli tiada.
Selamat jalan sayang
cahaya mataku, penyejuk jiwaku .

Selamat jalan calon bidadari surgaku

# B.J. HABIBIE
 
 

Jumat, 21 Desember 2012

selamat hari ibu

Diposting oleh yayan nurlian di 14.37 0 komentar
i love you so much MOM..

you're my everything :*

dede sayaaaang Mama'


22 Desember 2012

Selasa, 16 Oktober 2012

ta'aruf

Diposting oleh yayan nurlian di 20.17 0 komentar

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan laki – laki dan perempuan serta menjadikan rasa kasih dan sayang di antara keduanya dan menganugrahkan nikmat pernikahan kepada hamba-Nya, sehingga dengannya hati menjadi tenang. Sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam.
Pernikahan adalah saat yang paling dinanti oleh seorang ikhwan dan akhwat, yaitu mengikrarkan satu ikatan yang halal dalam melaksanakan kewajiban mewujudkan sakinah, mawahdah dan rahmah. Gambaran tentang keluarga bahagia terbentang indah di depan pelupuk mata.
Namun perlu di ingat, pernikahan bukanlah peristiwa sehari yang kemudian begitu saja berlalu. Pernikahan adalah sebuah gerbang dalam pengarungi bahtera rumah tangga. Maka, alangkah bahagianya bila kita bisa menjadi pengantin sepanjang masa.
Kehidupan rumah tangga yang bahagia dimulai dari memilih pasangan hidup yang sholeh dan melalui pintu gerbangnya dengan selamat. Sering kali ikhwan dan akhwat lebih mengutamakan cinta daripada agama pasangannya. Padahal cinta sejati adalah cinta yang tumbuh setelah menikah.
Disinilah penulis mencoba memberikan sedikit gambaran bagaimana proses / perjalanan dua insan dalam mencari cintanya sebagai upaya menyempurnakan dien Allah dan Sunnah Rosulullah.Sebut saja Yusuf adalah seorang ikhwan yang baru saja lulus S1 dan Aisyah seorang akhwat yang masih duduk dibangku kuliah. Pada suatu hari melalui seorang ustad mereka ta’aruf setelah masing – masing melihat biodata yang diajukan pada mereka. Akhirnya mereka sepakat untuk melanjutkan proses tersebut kejenjang pernikahan dengan melobi orang tua mereka masing – masing.
Dalam perjalanan lobi tersebut Aisyah sukses meyakinkan orang tuanya sehingga diijinkan, sedang Yusuf tidak sukses melobi orang tuanya, sehingga orang tuanya menolak dengan berbagai alasan. Dengan berbagai cara Yusuf mencoba meyakinkan Orang tuanya, hingga pada akhirnya mereka setuju, tapi harus bekerja dulu. Karena merasa syak, maka sesaat itu pula Yusuf menelpon Aisyah sebagai berikut :
“Afwan Ukhti, semoga ini tidak melukai anti dan keluarga anti . Ana pikir sudah saatnya ana memberi keputusan tentang proses kita. Ya…seperti yang anti ketahui bahwa selama ini ana telah berusaha melobi orang tua dengan beragam cara. Mulai dari memahamkan konsep nikah ‘ versi ’ kita, memperkenalkan anti pada mereka hingga melibatkan orang yang paling dipercaya orang tua ana untuk membujuk mereka agar mengizinkan ana untuk menikahi anti. Namun hingga sekarang nggak ada tanda-tanda mereka akan melunak, jadi menurut ana, sebaiknya ana mundur saja dari proses ini ! ” Yusuf diam sejenak untuk menunggu respon dari seberang, tapi hingga beberapa detik tidak ada tanggapan. “ Perlu anti ketahui bahwa orang tua ana sebenarnya sudah tidak keberatan ana menikah dengan anti. Hanya saja timingnya yang belum tepat. Ortu Ana khawatir ana tidak mampu menafkahi anti jika belum bekerja. Apalagi anti juga masih kuliah. Jadi ana rasa, ahsan kita nggak ada komitmen dulu hingga keadaannya membaik! Anti nggak keberatan khan, Ukhti?”
“ Keberatan….? Alhamdulillah nggak ! Namun kalau ana boleh kasih saran, apa tidak lebih baik kalau kita terus melobi sambil tetap proses saja. Soalnya khan kita sudah mantap satu sama lain, nggak enak kalau mundur di saat seperi ini. Apalagi permasalahannya sudah mulai mengerucut ke arah ma’isyah saja. Anta pasti masih ingat gimana sulitnya start awal kita membujuk orang tua, rasanya semua kriteria kita ditolak. Segala keterbatasan kita jadi aib yang sangat besar, pokoknya semua jalan sepertinya sudah tertutup rapat. Namun kenyataannya hanya dalam waktu dua minggu kita bisa mengeliminir semua syarat menjadi satu syarat saja : yaitu PEKERJAAN!” Aisyah, gadis tegar itu akhirnya bicara juga. “Akhi …kita hanya tinggal selangkah, tetaplah berikhtiar dan jangan putus asa. Bukankah Allah Maha membolak-balikkan hati?”
“Benar, ana paham soal itu, ana memang akan tetap melobi orang tua ana, akan tetapi kalau kita terikat, ana khawatir menghalangi Anti proses dengan ikhwan lain yang lebih kaffaah dari ana. Lagi pula ana khawatir tidak bisa menjaga hati.”
“Takut menghalangi ana untuk proses dengan ikhwan lain? Itu khan urusan Allah bukan urusan anta! Kewajiban anta sekarang adalah berjuang mempertahankan sesuatu yang anta sudah mantap dengannya. Hasil istikharah itu nggak mungkin salah. Tinggal bagaimana cara kita mengaplikasikannya saja.” Hening sejenak…
” Ya…tapi kalau memang akhi sudah merasa syak terhadap ana dan mantap untuk mundur, alhamdulillah. Insyaallah ana akan dukung sepenuhnya.”
“Nggak!” Reflek Yusuf berteriak. “Astaghfirullah al-‘adzim, afwan maksud ana, Ana – sama dengan keluarga ana – sudah tidak ada syak pada anti. Kami sangat menyukai anti dan keluarga anti. Selain itu ana juga takut perasaan ini semakin dalam. Ana ini hanya hamba yang dhoif yang masih kesulitan mengekang hawa nafsu.” Yusuf berhenti lagi, dadanya terasa sesak, air matanya mengalir semakin deras. Jauh di dalam hatinya, sesungguhnya ia merasa malu pada Allah atas kelalaiannya. Jatuh cinta…!
“Hallo…!!” Aisyah merasa Yusuf diam terlalu lama. Dia tidak tahu kalau pemuda itu sedang menangis. Tapi dia mengerti apa yang sedang terjadi padanya. “Ya udah…kalau begitu sekarang kita sepakat untuk membatalkan proses ini!! Setelah ini Insyaallah kita tidak akan lagi berhubungan kecuali untuk keperluan syar’i yang sangat darurat, iya kan?” Aisyah sengaja memberi jeda agar Yusuf bicara, tapi ikhwan itu memilih terus diam.
“Akh…kita tetap baik ya! Silaturahmi dengan keluarga harus tetap dijaga, jangan suudzon pada ayah dan bunda anta karena bisa jadi keputusan mereka adalah salah satu jalan Allah untuk menguji kita.” Aisyah berhenti lagi tapi Yusuf masih enggan berkomentar. “La tahzan, ya Akhi … Insyaallah kalau kita niatkan semuanya demi keridhaan Allah, maka Dia akan mencatat bagi kita pahala yang besar. Afwan jika selama proses ta’aruf ini…Ana, teman – teman dan keluarga ana banyak melakukan kekhilafan . Ana mewakili mereka dan diri ana sendiri untuk memohon maaf pada anta. Bersabarlah karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar…” Samar, Aisyah mendengar isak tangis di seberang. Dia nyaris tidak percaya…!
“Semoga ini bisa menjadi mahar cinta kita pada Allah dan semoga akhi mendapat ganti yang lebih baik…Amin.” Suara isak tangis makin terdengar jelas.
“Akhi…kalau sudah nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, tafadhol diakhiri!”… Tidak ada tanggapan.
“Hallo…!!?. Ya udah, kalau gitu biar ana yang tutup telponnya, ya…?” Sepi. “Assalamualikum!” Klik. Percakapan di antara mereka berakhir, tapi Yusuf baru menyadarinya. Dia segera bergegas mengambil air wudhu dan shalat. Jujur, sebenarnya dia sudah sangat mantap dengan mantan calon istrinya itu…Namun dia tidak yakin dapat membahagiakan akhwat itu kalau dirinya belum bisa menafkahi dengan layak. Padahal Aisyah dan keluarganya tidak mempermasalahkan tentang hal itu. Mereka sangat welcome padanya. Ah…mungkin ini sudah takdirnya. Mungkin Allah melihat bahwa akhwat itu terlalu baik untuk dirinya. Mungkin seharusnya akhwat sekaliber dia, mendapatkan ikhwan yang jauh lebih baik dari dirinya. Dia benar-benar merasa tidak level !!
“Ya… ikhwan lemah sepertiku, mana mungkin mendapatkan seorang Aisyah. Populer tapi tetap rendah hati, tegar, bijaksana, wara’ , zuhud … Pokoknya semua sifat baik ada padanya. Sedangkan aku…Naudzubillah mindzalik, semoga aku nggak akan menyakiti akhwat lain setelah ini. Astaghfirullah al-‘azhim…apa yang telah kusombongkan selama ini? sudah ikut Mulazamah bertahun-tahun tapi masih belum berani mengamalkan ilmu yang didapat sedikit pun. Katanya percaya bahwa orang yang menikah pasti akan dijamin rizqinya oleh Allah, ternyata aku tidak lebih hanya seorang ikhwan yang pengecut.” Yusuf tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Dia benar-benar merasa tak berarti. “Dulu..,aku pernah begitu khusyu’ berdoa pada Allah agar dipertemukan dengan akhwat salihah yang tidak banyak permintaan seperti dia. Sekarang ketika sudah dapat, malah kusia-siakan. Kini aku sadar bahwa Allah selalu mengabulkan permohonan hamba-Nya. Manusialah yang selalu kufur pada Rabb-nya.”
-000-
Di tempat yang berbeda, Aisyah menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Dia tetap ceria seperti biasanya. Ya…seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Kecewa jelas ada, karena Aisyah juga hanya manusia biasa. Namun dia bisa mengemas kekecewaannya dengan manis, membuat kesedihannya menjadi sesuatu yang lumrah dari proses kehidupan. Dia percaya bahwa hatinya tidak mungkin berbohong dan janji Allah pasti terjadi. Maka sesulit apa pun kondisi yang dihadapinya saat itu, dia mencoba untuk tetap tersenyum. Jujur, aku bangga padanya. “Aku sudah mantap dengannya. Aku yakin dialah jodohku. Aku akan terus menunggunya…”
-000-

Sepekan kemudian, Yusuf menitipkan biodata ikhwan lain yang merupakan teman dekatnya untuk diberikan pada Aisyah. Menurutnya ikhwan itu bisa membahagiakan Aisyah karena sudah matang dan punya pekerjaan tetap. Jelas, aku tahu bahwa pendapatnya keliru. Aisyah bukan mengharap ikhwan yang matang dan mapan. Dia hanya mengikuti kata hatinya saja. Diriku tidak akan bahagia hanya dengan harta dan tahta. Namun, tak urung kuterima juga biodata itu. Dan bisa ditebak, bagaimana reaksi Aisyah saat kuberikan empat lembar kertas berukuran A4 itu. Aisyah menggeleng pasti.
“Anti coba istikharah dulu. Barangkali semuanya bisa berubah..” bujukku.
“Jazaakumullah khoir , tapi… afwan tolong jangan paksa ana!”
-000-
Ikhwah fillah , mungkin sebagian Anda akan menganggap Yusuf sebagaimana penilaian Yusuf terhadap dirinya sendiri. Pengecut, munafik, jahil dan sifat-sifat buruk yang lainnya. Tapi bagi saya, Yusuf tidaklah seburuk itu. Justru sebaliknya, Yusuf dalam pandangan saya adalah ikhwan yang hanif . Dia berani mengambil risiko dengan mundur dari proses dan memilih untuk bersabar melawan nafsunya. Padahal kalau dia mau, dengan sikap Aisyah yang penurut, dia bisa saja minta untuk tetap meneruskan hubungan dengan gadis pilihannya itu. Namun dia tahu bahwa di atas segalanya, Allahlah yang patut untuk lebih dicintai.
Yusuf yakin bahwa jodoh adalah kekuasaan Allah dan Dia telah menetapkannya lima puluh ribu tahun sebelum semesta ada. Dia tahu kalau jodoh pasti akan ketemu lagi, bagaimanapun caranya. Mungkin Aisyah tidak akan pernah tahu kalau biodata yang kusodorkan kemarin adalah kiriman Yusuf. Mungkin Yusuf juga tidak akan pernah tahu kalau ternyata Aisyah akan terus menunggunya. Dan mereka juga tidak boleh tahu bahwa diam-diam aku selalu mendoakan kebaikan untuk mereka. Entah bagaimana ending kisah ini nantinya, yang pasti aku selalu berharap agar masing – masing dari mereka mendapatkan ganti yang lebih baik. Segera…
-000-
Begitulah gambaran suatu proses ta’aruf, dan ingatlah bahwa sesungguhnya Allah hendak menguji hamba – hambaNya yang beriman dengan berbagai cara dan kita tidak tahu dibalik ujian itu ada hikmah yang tersembunyi. Dan ingatlah sesungguhnya kita telah mempunyai jodoh lima puluh ribu tahun sebelum kita diciptakan, ikhtiar dan memohon petunjukNya adalah jalan yang terbaik.
La Tahzan jika dalam beberapa proses kita belum sukses…karena sesungguhnya melalui beberapa proses itu Allah hendak mendewasakanmu dan mematangkan dirimu, sehingga ketika kau menemui suamimu kau akan benar – benar siap.
Demikian segelintir kisah dari berbagai proses ta’aruf, dan sesungguh masih banyak kisah – kisah lain yang mampu meneguhkan hati. Sebab, justru dari berbagai masalah yang mengiringi ta’aruf inilah pernikahan akan menjadi indah dan menguatkan hati kedua mempelai.
- Untuk semua ikhwah yang sedang menunggu, sabar ya…
- Untuk semua akhwat jadilah seperti Aisyah yang tegar dan sabar…
- Dan kepada engkau wahai Ikhwan dan akhwat yang secara tidak sengaja mempunyai kisah / mengalami kejadian yang sama, bersabarlah,…jadilah seperti mereka yang mampu saling memaafkan, bahkan mereka bersedia menjadi perantara untuk ta’aruf dengan ikhwan atau akhwat yang lain. Bukanlah akhlaq seorang muslim, bila dia gagal berta’aruf maka dia membenci ikhwan/akhwat yang ta’aruf dengannya. Wallahu a’lam.
( Tebet, 10 Juli 2012 )
M. Sirais Rosyid

Sabtu, 14 April 2012

lukisan-MU

Diposting oleh yayan nurlian di 08.24 0 komentar
Bila kerikil pantai,
telah berubah menjadi permata. .

Mungkin lautan tak lagi bimbang,bahkan teriak mesra..
menerawang jauh d atas dermaga samudra. .
Mendongengkan sayup-sayup sang bayu siang. .
Terbuai dalam cerita cinta burung bAngau. .
Yang asyik brmain mesra d atas gelombang. .

Sementara . .
Laba-laba kecil merajut jaring-jaring sutranya. .
Melilit pohon cemara. .
Beruntai-untai. . .Lalu ia jatuh ke tanah. .
Sementara itu juga semut kecil. .
Mondar- mandir. .
Bagai kucing kehilangan ekornya. .

Sibuk mencari secuil makanan,


Kupandangi kembali pantaiku..
Gelombang pasangnya membentuk sudut-sudut fatamorgana.
melukis keindahan yang absurd

tapi dapat ku nikmati...

Nuansa damai & tentram
Sangat indah ku lihat.,
memberikan ketenangan untuk setiap insan yang melihatnya,
Terima kasih Ya ALLAH

masih mengizinkanku, menikmati lukisan indah-Mu


Aku. .Ada Di sini.

lukisan-MU

Diposting oleh yayan nurlian di 08.24 0 komentar
Bila kerikil pantai,
telah berubah menjadi permata. .

Mungkin lautan tak lagi bimbang,bahkan teriak mesra..
menerawang jauh d atas dermaga samudra. .
Mendongengkan sayup-sayup sang bayu siang. .
Terbuai dalam cerita cinta burung bAngau. .
Yang asyik brmain mesra d atas gelombang. .

Sementara . .
Laba-laba kecil merajut jaring-jaring sutranya. .
Melilit pohon cemara. .
Beruntai-untai. . .Lalu ia jatuh ke tanah. .
Sementara itu juga semut kecil. .
Mondar- mandir. .
Bagai kucing kehilangan ekornya. .

Sibuk mencari secuil makanan,


Kupandangi kembali pantaiku..
Gelombang pasangnya membentuk sudut-sudut fatamorgana.
melukis keindahan yang absurd

tapi dapat ku nikmati...

Nuansa damai & tentram
Sangat indah ku lihat.,
memberikan ketenangan untuk setiap insan yang melihatnya,
Terima kasih Ya ALLAH

masih mengizinkanku, menikmati lukisan indah-Mu


Aku. .Ada Di sini.

Jumat, 13 April 2012

Diposting oleh yayan nurlian di 20.06 0 komentar

Subuh ini, malas mengguyurku. Terasa berat kakiku untuk beranjak dari tempat tidurku yang renta ini. Dengan mata sedikit masih terpejam, aku menuruti apa kata kakiku. Aku menuju kamar mandi untuk berwudhu, air bak mandi yang dingin itupun sontak membuat aku tersadar secara total.
 “ ayoo…airnya gak dingin,,,sholat, sholat .“ hatiku membentak !
            Aku memenuhi panggilanNya pada subuh itu “ Asholatukhairumminannauum “. Setelah selesai , aku kembali merebahkan tubuhku di tempat tidur. Aku meraih hp yang tergeletak di dekat bantalku, aku langsung memeriksa inbox sms dan ternyata kosong dari cuap-cuap yang tidak penting yaitu mereka para rombongan penggombreng J tidak berhenti di situ aku  langsung online FB untuk mengecek semua pembaharuannya dan ini juga termasuk salah satu aktifitas rutin setiap pagiku. Ahhh… ku lihat tidak ada yang menarik sedikitpun, off kembali.
            Seperti biasa aktivitasku hari ini hanyalah kuliah, lalu seterusnya di rumah. Gak semangat hari ini, males, lemes, pusing, dan mual. Ku rasa komplit sudah rasanya yang ada di otakku sekarang. Semoga tubuhku tidak protes.  Hari ini panas matahari seperti membakar ubun-ubunku, sangat terik sekali. Lelah seharian di kampus membuat ku tak berdaya saat tiba di rumah ku rebahkan tubuhku di singgasana. Aku ingin tidur, berat kepalaku terasa di tindih oleh berton-ton batu besar, tak bisa ku tahan lagi. Aku terhanyut. ( zzzZZZZ )
            Dua jam berlalu…………..
            Aku terbangun. Aku barusan ternyata bermimpi. Ahh…aku sedikit lupa akan mimpiku tadi. Tetapi yang aku ingat DIA ,,yaah dia itu ada dalam mimpiku. Hmm dia ??? tiba-tiba datang lagi, heeuhh ku rasa sosok itu sudah lama tidak muncul di dalam pikiranku karena beberapa faktor.
Mimpinya aneh. Pertama dia datang kerumahku, lalu bertemu sama bapakku. Kemudian aku dan dia pergi ke pantai, kalau tidak salah pantai dekat rumah bibi ku dulu. Di sana sepi, dia mandi di pantai lalu setelah itu dia pergi dan menghilang. Ahhh..aku juga tidak mengerti akan mimpi ku sendiri, tapi sudahlah mimpi tetaplah hanya sebuah bunga tidur.
***
Aku adalah seseorang yang fanatik. Fanatik dalam hal cinta. Terlalu menganggap serius akan setiap kata cinta yang terlontar padaku lalu akhirnya akan tersakiti olehnya ( sebaiknya bagi yang tidak serius jangan sekali-kali mengucapkan hal itu padaku, jika akhirnya itu adalah sebuah kebohongan, kalian bisa membuat aku gila ).
Cinta…cinta…cinta….  Tidak luput dari pikiran para remaja dengan persepsi masing-masing. Kadang ada yang terlalu lebay, kadang ada yang begitu semangat sehingga dia sendiri tidak mengerti tindakannya itu benar atau salah.
Untuk aku sendiri, cinta adalah suatu energi positif yang bisa menghantarkan seseorang pada satu titik dimana ia akan merasakan itulah tujuan hidupnya. CINTA kepada sang KHALIQ, di mana kita berusaha menjadi yang terbaik diantara yang paling baik, selalu bersujud di hadapannya, menghamba dan selalu mensyukuri nikmat-Nya.
Kadang orang salah mengartikan keadaan pada saat sedang patah hati atau di kecewakan oleh seseorang yang di sayanginya, cinta adalah yang di jadikan tersangka pertama. Why ??? ada yang menyebutkan, CINTA INI MEMBUNUHKU ( d’masive kali yaa J ), cinta membuat orang menderita , cinta ini begini, dan cinta ini begitu. Menurutku argumen seperti itu kurang tepat. Mengapa di setiap masalah mereka tidak melihat di dalam diri masing-masing, bagaimana cinta itu di fungsikan ? karena pada dasarnya cinta itu di mainkan oleh manusianya. Seharusnya intropeksi apa yang telah kita lakukan dan berikan. Jadi tidak ada yang salah dengan cinta, ADA APA DENGAN CINTA ?? hmm.. sangat rumit di saat kita tidak bisa menikmatinya secara ikhlas, lahir dan batin.
Cuap-cuapku tidak lepas dari apa yang pernah aku alami, aku bisa berkata demikian karena apa yang pernah aku alami dulu sangat aku sesalkan karena kesadaran akan hal itu baru aku sadari beberapa detik yang lalu ( saat aku ngomel di atas barusan J hehe ).
Aku juga pernah pacaran sama seperti yang lainnya. Tapi aku lebih suka memilih pacaran jarak jauh meskipun tidak pernah bertemu sebelumnya, aku tetap jalani. Alasannya…yaaah hanya aku sendiri yang tahu. Mungkin ada beberapa kalian berfikir apa sih enaknya pacaran jarak jauh , apalagi gak pernah ketemu sama sekali, hanya mimpi dan khayal. Gila kan ??? tapi bagiku tidak, aku menikmati semua itu dan bahkan aku pernah menjalaninya selama dua tahun lebih. Suatu kenikmatan tersendiri bisa mencintai hanya dengan hati, berbicara lewat hati, dan merasakannya dengan hati pula. Semuanya menggunakan hati. Karena aku tidak pernah menatap matanya, memandang wajahnya, menyentuh jemarinya dan mendekati jasadnya. Inilah yang terjadi padaku .
Tetapi akhirnya semua itu juga kandas, aku dan dia ( sebut saja Mr. H ) mengakhiri hubungan LDR kami. Meskipun saat itu aku masih punya satu pertanyaan kecil untuknya yaitu apakah selama dua tahun ini dia emang benar-benar mencintai ku ??? hanya dia dan Sang Pemilik Cinta yang mengetahuinya.
Setelah belenggu batin yang aku terima darinya, kata-kata hina itu, cacian , makian dan ancaman semuanya telah komplit dia berikan kepadaku. Kesabaranku selama satu tahun terakhir tidak membuat dia sadar bahwa aku menginginkan dia sadar dan berubah. Ahh… tidak akan ada yang bisa merubahnya terkecuali dia sendiri.
Aku memutuskan untuk mengikhlaskannya. Saat itu aku mencabik-cabik semua komitmen yang telah aku buat . entah mengapa bibirku hanya tersenyum saat semuanya ku lakukan dengan sangat mudah. Yaa… aku memang harus mengikhlaskannya. Suatu dorongan dari hati, menyuruhku untuk membulatkan keputusan ini. Mungkin hatiku sendiri sudah bosan dan sudah tak ingin merasakannya lagi. Sekarang aku benar-benar telah ikhlas. Smile for today J
Setelah kejadian itu, aku menutup diri , mengunci hati dengan sekuatku. Aku tak ingin merasakannya lagi, aku juga tak ingin ada yang menerobos masuk kedalam hati ini karena aku tak ingin cintaku terkuras sia-sia . Tapi aku menikmati hidupku sekarang, enjoy with my friend dan sedikit bisa melupakan  semua masalah cintaku.
***
Hari-hari kulalui dengan semua kesibukanku yang menggunung. Semua aktivitas kadang terasa tak bisa ku jajah satu-persatu. Semua itu menguras otak serta energy yang ada dalam tubuhku. Tak jarang tubuhku memprotes dan meronta untuk memintaku mengistirahatkan mereka sejenak, tapi kadang aku tak peduli bahkan berpura-pura tidak mendengarkan keluhan mereka. Hingga suatu subuh itu anfalku kambuh kembali.
DIA….
Dia datang lagi, seseorang yang pernah ada di dalam mimpiku saat itu. Dia menjadi sering menghubungiku. Ahhh..semua tentangnya. Kadang terasa lucu dan kadang aku merasa kecewa dengan diriku sendiri saat aku mengingatnya.
Dia adalah sahabatku. Sahabat mayaku. Seseorang yang sempat menarik perhatianku waktu itu. Entah kenapa aku saat itu sangat menyukainya, padahal dia sudah mempunyai pacar. Ahh..aku terlalu ikut perasaan. Sehingga aku menyukainya. Kurasa tidak ada yang salah. Dan semenjak satu tahun lalu aku sudah tidak kontekan lagi dengannya , dan rasa itupun sudah terkubur bersama rasa lupaku itu.
Sekarang dia datang kembali. Tidak ada yang berubah darinya hanya yang berubah adalah dengan pacar yang berbeda. Tapi statusnya masih sama dengan saat aku kenal dengannya pertama kali, yaitu PACARAN. Aku fikir tidak ada yang salah, dulu aku dan dia juga sering cerita dan curhat (sharing ). Tapi Saat ini dia membawa suasana yang berbeda, kusut , galau dan patah hati. Aku sebagai sahabat yang baik berusaha memberi saran dan masukan.
Sejak saat itu dia lebih sering lagi menghubungiku. Kurasa dia butuh teman karena sedang bermasalah dengan pacarnya. Menurut pengakuannya dia saat ini sedang bermasalah sama pacarnya, pacarnya telah berbohong. Ahh..ku rasa itu satu hal yang biasa, tapi aku tetap berusaha membuat dia selalu berfikir positif akan masalah yang di alaminya. Dia pun mencoba bersabar.
Suatu hari , aku mendapatkan kabar bahwa penyakitnya kambuh dan sedang di rawat di rumah sakit. Menurut pengakuannya dia kecapean dan terlalu banyak fikiran. Ahhh…aku ingin marah sama dia, ku fikir pasti karena masalahnya itu. Aku tahu persis dia seperti apa, menghadapi masalah selalu terlalu serius. Aku menjadi sering mengkhawatirkannya. Tak jarang aku jadi protek terhadapnya, aku sangat takut terjadi sesuatu kepadanya. Ahhh…saat itu juga RASA itu kembali muncul. Aku tak bisa menghindarinya. Perhatiannya, semua ucapannya berusaha untuk tidak kutanggapi serius, aku berusaha menghilangkan rasa itu secepat mungkin, aku tahu itu salah sehingga aku memaksa untuk mengusirnya. Tapi bukan malah menghilangkan rasa itu, tetapi membuat rasa itu semakin kuat bersarang di hati dan otakku. Keinginanku untuk memilikinya saat itupun timbul, Ahh..aku marah sama diriku. Bahkan aku sempat menangis di saat batinku berseteru dengan nafsuku. Aku tak layak mengharapkan sesuatu darinya, ku rasa ini tidak wajar untuk ku pertahankan. Bukan hanya itu, dia bahkan mengatakan bahwa dia sangat saying denganku , ingin aku tetap menemaninya, bahkan yang sangat ku ingat adalah saat dia mengatakan ingin aku menjadi pacarnya. Arrgghh…  rasa itu menjadi tambah kuat. Batinku semakin memberontak “ KAMU MELAKUKAN KESALAHAN, KAMU MENCINTAI SESEORANG YANG MASIH MEMPUNYAI CINTA, HILANGKAN RASA ITU !!!. “ ingin rasanya aku menangis, ketika keadaan dan posisi yang sangat tidak mendukungku saat ini. Bebagai cara ku lakukan untuk menghindar, tapi aku terlalu lemah untuk itu, aku merasakan sakit yang luar biasa.
Waktupun tetap kulalui. Hari-hariku di penuhi dengan kehadirannya. Hari ini dia kembali mengulang ucapannya beberapa hari yang lalu. Dia mengatakan bahwa dia ingin mengakhiri hubungan dengan pacarnya itu, dia sudah tidak tahan akan semua kebohongan pacarnya. Aku mengerti hal ini, bahkan aku sangat bisa merasakannya juga. Reflek hati ini merasa bahagia mendengar dia ingin mengakhiri hubungannya itu. Sejak pertama aku sudah tidak menyetujui akan hubungannya ini, aku tidak seberapa suka dengan pacarnya itu, entahlah aku pun tidak mengerti. Aku bukan malaikat yang suci yang bisa memberi penilaian kepada sesamaku, bahkan tidak pantas , tetapi itulah yang kurasakan. Tapi aku masih bisa menahan ekspresi kebahagiaanku itu, ku tahu dia sangat terpuruk saat itu. Aku menenangkannya, dan menyuruhnya untuk tetap memikirkan kembali keputusan itu. Aku tidak ingin dia menyesal, karena aku tahu dia seseorang yang sangat plin-plan. Tapi dia tetap kuat akan keputusannya itu, dan dia menginginkan aku untuk menggantikan posisi pacarnya. Dia menginginkan aku menjadi pacarnya, menjadi orang yang bisa selalu menemaninya. Aku sangat bahagia mendengar pengakuannya. Tapi aku sadar akan statusnya saat ini yang masih berpacaran. Batinku kembali berseteru.
***
Besok adalah tahun baru, banyak hal yang ingin aku capai. Semua berhubungan dengan kebahagiaan orang tuaku, aku sangat menyayangi mereka, aku tak ingin mengecewakan mereka. Orang tuaku menginginkan aku secepatnya untuk menyelesaikan kuliah. Aku selalu usahakan itu.
Doaku hari ini..
Ya Rabbi… terima kasih atas nafas yang masih Kau berikan kepadaku.
Atas waktu dan kesempatan sehingga aku masih bisa menyaksikan ciptaanMu
Aku hanya secuil dari bagian hambamu yang bersujud saat ini.
Aku menyadari selama aku hidup, dosa tak pernah luput dari setiap gerak tubuhku..
Maafkan mata ini. Maafkan lidah ini, maafkan untuk setiap gerakan yang ku lakukan
Sehingga jauh dari Ridho-Mu…
Aku mohon ampunanMu.
Ya Rahman….
Aku ingin melihat senyum kedua orang tuaku , senyum kebahagiaan atas apa yang kuberikan kepada mereka..
Tunjukkan cahayaMu Ya Allah, jalan menuju keridhoanMu, agar aku dapat menghamba di hadapanMu dalam keadaan suci.
Berilah kebahagiaan bagi semua orang yang menyayangiku, dan berilah kebahagiaan untuk mereka yang aku sayangi.
Pertemukanlah kami di surgaMu nanti.
Ya Allah , sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui rahasiaku yang tersembunyi dan amal perbuatanku yang nyata, maka terimalah ratapanku, ampuni segala dosaku. Jadikan aku muslimah yang takut akan Mu Ya Rabb.
La haula wa la quwwata illa billah. Amin Ya Rabbal alamin.

Aku menangis dalam sujudku malam itu, begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepadaku, mungkin juga banyak nikmat yang tak ku syukuri. Aku ingin Allah mengampuni segala kehilafanku.
Di malam pergantian tahun aku juga punya niat, aku ingin ada seseorang yang datang kepadaku dengan cinta yang tulus darinya. “ jika besok, di hari pertama tahun baru akan ada seseorang yang mengatakan cinta kepadaku, dengan niat tulus dari hatinya, siapapun dia akan aku terima dia sebagai seseorang yang akan aku cintai setulusnya, tetapi jika besok tidak ada seorangpun yang datang dengan cintanya, aku tidak akan pernah menerima siapapun, untuk menjadi seseorang untuk kucintai sampai aku dapat menyelesaikan kuliahku.” Bismillah niat itu ku ucapkan tepat jam 23:23 di malam pergantian tahun.
HAPPY NEW YEAR…….
Banyak hal yang terjadi di tahun kemarin, semoga aku dapat mengumpulkannya menjadi sebuah kenangan dan pelajaran untuk menjalani hidupku seterusnya. Pagi itu, seperti biasa dia selalu hadir menghiasi, aku senang karena dia sangat memperhatikanku. Meskipun aku tak pernah tau apa sebenarnya yang ada dalam hatinya. Hari ini, aku berharap sesuatu akan terjadi padaku , apa pun itu. Melihat kedekatanku dengannya, aku menjadi mengharapkan sesuatu terucap dari bibirnya. Entah mengapa aku begitu mengharapkannya, apa semua itu berhubung dengan niat ku tadi malam ?? entahlah..
^_^ DEG.. jantungku berdetak cepat, saat dia mengucapkan kalimat itu kepadaku. Awalnya dari pengakuannya untuk meminta aku menemaninya selalu, dan dia juga mengatakan bahwa dia sangat menyayangiku. Ahh andai dia tahu saat itu aku rasanya ingin terbang, ingin teriak , ingin mengucapkan bahwa betapa aku juga sangat menyayanginya. Janjinya terus berusaha meyakinkan aku, bahwa dia bisa menerima keadaanku apa adanya, sebuah jarak pemisah tidak masalah baginya, dia berusaha menjadi yang terbaik untukku. Ya Allah, apakah dia jujur untuk semua ucapannya ? apakah aku harus mempercayainya ? aku bingung, aku tak tahu harus mengucapkan apa ?? saat itu juga aku teringat akan status hubungannya, apakah dia masih pacaran . jika memang iya, aku tidak boleh untuk menjalin hubungan seperti ini. Aku pertanyakan semuanya, dan pengakuannya dia telah resmi putus. Betapa bahagianya aku . aku menerima cintanya ( 1.1.12 ).
Sesuai niatku, aku menerimanya. Aku sangat mengharapkannya dan seharusnya dia tahu itu. Aku pun resmi berpacaran dengannya. Tapi tidak hanya berhenti di sini perjuanganku, mantannya yang mungkin tidak menerima keputusannya itu selalu hadir dalam hubungan kami. Aku juga tidak tahu apakah dia benar-benar telah mengakhiri hubungannya, tapi mereka masih berhubungan layaknya pacaran. Mungkin mereka tidak pernah tahu saat itu aku merasakan sakit, sakit yang luar biasa, aku bingung harus menyalahkan siapa, dia, mantannya ataukah diriku sendiri ? apakah aku harus menyesal karena telah menerimanya begitu cepat, tapi aku juga tak ingin munafik atas diriku sendiri bahwa aku begitu mencintainya. Aku kumpulkan seluruh kesabaranku, mencoba untuk mengerti keadaan dan terlihat biasa-biasa saja. Namun hati kecilku sering berkata “ mereka masih saling cinta, mereka saling menyayangi , apakah kamu tega untuk menghancurkan kebahagiaan orang lain demi keinginanmu ?? “ hati kecilku terus berpidato. Aku semakin bingung dengan keadaan seperti ini. Ya Allah, jika memang dia jodohku mudahkanlah niatku, dan jika memang dia bukan yang terbaik untukku maka jauhkanlah dia secara baik-baik dari hidupku. Aku berdoa dalam hati , dengan mata bercucuran air mata. Aku tidak ingin menyalahkan siapapun saat ini, aku berusaha menjadi yang terbaik , yang aku tahu saat ini aku begitu mencintainya, dan kami telah resmi berpacaran.
Dia kembali masuk kerumah sakit. Pagi ini, saat aku ingin berangkat kuliah, seperti biasa dia mengucapkan beberapa kata indah, bahwa dia sangat menyayangiku. Tapi aku merasa ada yang aneh saat dia bilang bahwa aku harus menjaga diri baik-baik, aku merasakan sesuatu yang aneh. Dia tidak seperti biasanya. Kecurigaanku ku sembunyikan, aku berharap semua kan baik-baik saja, semoga dia cepat sembuh, dan saat itu juga dia memberitahuku bahwa dia akan pulang hari ini. Aku senang mendengarnya. Saat perjalanan hatiku tidak tenang,, ini beberapa sms yang dia kirim kepadaku…
07: 50 sayank ky mau istirhat dlu yaa mau bobo ky cape. Sayank jangan lupa sarapannya. Jaga diri sayank baik2 di sana :’) ky sayang banget sma sayank. Love you
07:55 kalw ky nd bangun2 maaf ya sayank :’) :*  jaga diri baik2 di sana
07:58 pengen bobo yank lama sayank J ky gug akan knapa2 percaya sma ky ya :* sayank hati2 di jalannya yank bener kuliahnya  :’)
 08:00 iyaa :’) ky sayang bangeet ma yan ,, sayaank bangeeeeettt
tak kusadari aku menangis di perjalanan, aku sangat menyesalkan keadaan seperti ini, di saat orang yang kita sayangi sedang sakit, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa menemaninya, tidak bisa melihat raut wajahnya saat menahan sakit. Hanya lewat doa ini , hanya lewat kasih sayangMu ya Allah, aku menyayanginya. Aku berusaha membakar kecurigaanku itu merubahnya menjadi husnudzon. Sesampainya di kampus aku terlambat dan langsung persentasi tugas. Setelah setengah jam kemudian persentasikupun selesai. Aku menghela nafas lega, karena tugas hari ini selesai. Aku mengambil hp di dalam tasku. Dan aku teringat akan dia, aku mengirimkan sms untuk menanyakan keadaannya dan kapan akan pulang ke rumah. beberapa menit kemudian sms masuk, dan ku baca :
 “ maaf kka in ade, aa sakit , sekarang gak sadarkan diri “
Apa ?? gak sadar ?? bukannya hari ini dia akan pulang, Ya Allah apa lagi ini. Aku menangis di tempat dudukku, tak kuhiraukan dosen bercuap-cuap di depan. Tak kuhiraukan semua makhluk yang ada di dekatku, aku tetap menangis sejadi-jadinya. Sesampai di rumah aku berusaha mencari tahu akan keadaannya. Dan yang sangat mengagetkanku yaitu pengakuan dari temannya di FB, aku menanyakan keadaan dia dan penyebab dia seperti ini. Temannya membalas pesan yang ku kirim lewat FB.
“ ka, aku tau penyebab aa sekarang seperti ini,dia tuh nazar. Nazar buat ka Len. Katanya ka len sakit gara-gara aa, terus aa pengen tau kabarnya ka len, tapi ka len gak ada kabar. Kalau sampe jam 9 malam waktu itu ka len gak ada kabar. Dia pagi-pagi mau minum semua obat itu. Karena ka len benar-benar sakit.”
“ Ya Allah, kenapa dia nekat seperti ini. Sebegitu cintakah dia sama len ( mantannya ) sehingga mengharuskan untuk melakukan hal bodoh itu, ahh otaknya tidak berfungsi, dia di butakan oleh cinta. “ aku terus menggerutu dalam hati, aku sangat menyesalkan perbuatannya itu.
Aku pun terus berdoa kepada Allah, semoga dia secepatnya sadar .Aku menjadi tidak konsen kuliah, pikiranku berkutat memikirkan dia. Aku menjadi seperti orang bingung,jadi lupa makan, minum obat, kurang tidur dan itu ku lakukan tanpa sengaja . aku kembali drop.
Tiga hari berlalu, adiknya memberi kabar kepadaku bahwa dia telah sadar ( setelah tiga hari mengalami koma ), alhamdulillah Ya Allah Engkau mendengar doa ku. Ku usap dadaku, terasa ada beban besar di dalam dadaku ini yang telah hilang. Aku berusaha mengatur emosiku, aku tak ingin emosi ini mempengaruhi kondisinya lagi, padahal saat ini aku sangat marah dengannya soal aksi nekatnya meminum obat secara OD ( over dosis ), aku menahan emosiku secara baik dan Alhamdulillah aku tidak memperlihatkan rasa marahku itu. Aku terus memberi semangat kepadanya. Aku berusaha sebisaku untuk tetap memberikan sepenuhnya perhatianku kepadanya. Semoga keadaannya akan bertambah pulih. Hanya itu doaku saat ini.
Keadaannya pun semakin bertambah baik meskipun kadang dia selalu merasakan sakit,  ku yakin dia kuat lalui ini semua. Huff…nafasku sesak, setiap saat mengenangnya, semoga kejadian seperti ini tidak akan pernah kembali terjadi. Aku menyayanginya sepenuhnya, kucurahkan semua perhatianku untuknya bahkan waktuku yang sangat sibuk pun ku singkirkan demi dia. Aku tak ingin dia merasakan hal yang sama saat dia masih dengan pacarnya dulu. Aku tulus melakukannya.
Beberapa hari kemudian…
Hari kulalui seperti biasa, di temani dengan semua kasih sayang dari nya. Tak bisa ku pungkiri aku menjadi semakin sayang. Tapi meskipun begini tetap saja masih ada yang mengganjal di dadaku, aku masih tidak bisa tenang sepenuhnya, bahkan merasa takut. Ini di karenakan aku selalu di hantui oleh kehadiran mantannya itu, dia masih berhubungan baik ternyata di belakangku. Meskipun dia selalu tidak mengakuinya, tapi aku lebih bisa merasakannya. Aku mencoba terus bersabar dan ku anggap itu semua adalah ujian dariNya, aku terus berusaha berfikir positif meskipun hatiku begitu rapuh saat ini. Yaa..aku memang tidak bisa  menggantikan posisi mantannya saat ini, aku sangat mengerti bahwa dia masih sangat mencintai mantannya itu, apalagi menurut pengakuan mantannya bahwa mereka juga ingin merencanakan pernikahan nanti, dan mereka punya janji masing-masing. Huff…batinku kembali terenyuh mendengarnya, aku kuatkan hati ini sembari berdoa, Ya Allah tunjukkan jalan terbaik untukku. Tekanan dari saudara dan teman dekatku pun berdatangan, mereka menyuruhku untuk mundur saja, sebuah tindakan yang sangat sulit untuk kulakukan. Pikiranku tak menentu, kadang sesak di saluran nafasku berulang terjadi. Ahh..aku tidak kuat seperti ini. Dia selalu meyakinkanku agar untuk tetap sabar, bahwa dia akan buktikan bahwa dia akan benar-benar mengakhiri hubungannya itu. Aku kembali sabar.
Aku tak mengerti, setiap ku menbaca status FB dari dia ataupun mantannya perasaanku selalu hancur, sakit hati membabi buta menyerangku. Ingin rasanya aku teriak di depan mereka “ KALIAN ANGGAP AKU APA???” , kata-kata mesra dari keduanya membuat aku ingin menangis, aku mungkin seorang wanita yang sangat lemah dan cengeng, hampir setiap tindakan ku lakukan dengan menangis. Hanya itu yang dapat ku lakukan. Aku semakin berfikir keras, aku menegaskan hatiku, aku hanya orang baru yang mungkin tak tahu apa-apa akan sejarah percintaan mereka. Aku di sini merasa sebagai orang ketiga meskipun aku resmi telah menjadi pacarnya sekalipun tetapi aku merasa tak pernah di anggap. Di tambah lagi dengan penolakannya untuk mengubah status hubungan di FB nya, dia ngotot untuk tidak akan merubah statusnya, dengan alasan tertentu padahal aku yakin dia berat untuk lakukan semua itu. Aku hanya ingin bukti, hanya dengan bukti sekecil itupun dia tidak bisa lakukan , hal ini menguatkan feelingku bahwa aku tak pernah dianggap saat ini. Aku rela di hina teman-temanku, di bilang tidak tahu malu karena telah mengakui dia adalah pacarku secara status di FB nya masih menikah sengan mantannya itu. Yaa.. mungkin aku pantas untuk di bilang seperti itu dan memang benar aku seorang yang tidak tahu diri.
Aku membulatkan keputusanku untuk mundur dari hubungan mereka, meskipun saat itu dia tetap memilihku untuk menjadi pacarnya. Tapi aku masih merasakan dia masih tidak bisa melupakan dan mengakhiri hubungannya itu. Aku ikut saran dari saudara serta temanku, aku ingin mundur. Suatu keberanian di malam ini, aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, aku mengumpulkan semua kalimat yang telah aku susun tadi. Bismillah.. tepat pukul 23:05 aku mengirimkan sebuah pesan singkat dengan isinya yang memberitahukan tentang kekecewaanku atas perlakuannya. Akan keberatan atas posisi ku saat ini, akan kehadiran mantannya yang terus menberatkan hatiku, aku memilih mundur, aku tak ingin menyakiti sesamaku, semoga kalian bisa memperbaiki hubungan kalian kembali, semoga Allah memberi kekuatan kepadaku. Aku melepaskannya dengan keikhlasanku atas kebahagiaannya. Dini hari dia membalas smsku dan mengatakan dia tidak terima akan keputusanku itu tapi setelah beberapa kali aku mengiba untuk mengerti keadaanku dan akhirnya dia mengiyakannya. Aku kembali drop.
Aku melihat dia tetap baik-baik saja, tampaknya hubungan mereka tambah baik. Aku tak mau usil akan hubungan mereka, yang aku tahu aku tidak punya hak apa-apa di sini. Tapi aku masih berhubungan baik dengannya, tak ada sedikitpun dendam kepadanya dan tuntutan untuk menepati semua janjinya yang pernah di ucapkannya kepadaku dulu. Aku harus bisa terima meskipun menyakitkan sekalipun.
***
Dua minggu setelah kemunduranku. Dia kembali mengadu kepadaku bahwa dia telah kembali di bohongi pacarnya itu, aku berusaha tenang menanggapi ceritanya. aku fikir ini tidak jauh beda dengan masalahnya kemarin, aku tak ingin masuk campur sebenarnya, aku menahan emosi ku untuk marah, bahwa saat itu aku sebenarnya ingin marah karena aku sangat menyayangkan hal seperti ini terjadi, karena harapanku setelah aku memutuskan untuk mundur adalah dia akan bahagia , akan lebih tenang menjalani hubungan mereka. Tapi ternyata aku salah.
Dia terus memintaku untuk memberi saran kepadanya, kurasa tak akan ada yang bisa memberi saran kalau melihat keadaannya seperti ini. Aku hanya menyerahkan keputusan sepenuhnya kepadanya, aku menyuruhnya kembali berfikir secara tenang. Aku tak ingin dia menggantungkan keputusannya ini kepada orang lain, biarlah dia memikirkannya sendiri apa yang terbaik untuknya. Aku rasa dia seorang yang pecundang, dia tida bisa mnerima kenyataan, dia tidak bisa tegas akan dirinya sendiri. Biarlah dia menikmati semua itu.
Akhirnya dia mengatakan bahwa dia benar-benar ingin mengakhiri hubungannya itu dan ingin melupakan semuanya, dia sudah tidak kuat untuk menjalani hubungannya ini. Aku hanya menghela nafas panjang, semoga Allah mendengar semuanya, akan kejujuran hatinya saat itu. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segalanya. Dia meminta kesempatan kepadaku untuk memperbaiki semuanya, dia ingin serius denganku, dia meminta maaf akan ketidaktegasannya dalam membuat keputusan. Dia kembali meyakinkanku, dia berusaha membuat aku untuk percaya. Aku berusaha kuat untuk tidak emosi dalam menanggapi sikapnya itu. Tapi hatiku terus meronta, hatiku mendorongku untuk mempercayainya, ahhh…bukankah ini telah berkali-kali dia lakukan kepadaku ???
“ dia hanya butuh kamu, butuh di saat dia memang butuh, coba kamu fikirkan baik-baik, seandainya dia memang benar-benar serius denganmu, dia tidak akan tega melakukan ini. Dia akan mempertahankanmu meskipun dia berat, pernahkan kau lihat itu ???” hatiku mulai menceramahiku.
Ya ALLAH, bantu hambamu ini, yakinkan hati ini , perlihatkan kesungguhan dari niatnya itu, aku bingung. Apa yang harus kulakukan, aku tidak mendapatkan keyakinan itu. Aku rapuh kembali. Sampai di saat aku benar-benar yakin akan kebenaran darinya yaitu, dia telah mengubah status hubungannya menjadi lajang, meskipun dia tidak langsung mencantumkan aku sebagai gantinya. Tapi itu merupakan sebuah kebenaran akan kata-katanya, tidak seperti beberapa waktu lalu di mana dia sangat kuat untuk tidak mengubah statusnya itu. Syukurlah .. hanya itu yang dapat ku ucapkan.
Aku melapangkan dadaku, ku biarkan ada rongga kecil agar udara dapat masuk. Ya Allah semoga ini yang terakhir terjadi, semoga ini adalah sebuah kebenaran dari-Mu. Amin. Aku memberi kesempatan lagi untuknya.
Dedaunan terkulai lemas di dahan karena segumpal embun yang berada di atasnya. Betapa sang daun bertahan untuk tidak tumbang, menunggu hingga sang mentari dating untuk membebaskan mereka dari injakan embun. Ketika sang mentari telah kembali dating, sinar cintanya menyebar kepenjuru kehidupan, ia dengan lambat menghapus embun yang sedang merajai daun. Hingga saatnya sang daun kembali tegak menantang dan berkata “ kapanpun kau dating wahai embun, aku tidak akan takut. Aku akan tetap kembali tegak karena sang mentari akan selalu ada untukku .”
Begitupun juga kita, sebesar apapun masalah, sebesar apapun cobaan, seharusnya kita memcoba bersabar karena ALLAH bersama kita. Dia akan selalu membantu kita.
Alhamdulillah semoga Allah selalu memberikan kesabaran dan keikhlasan kepadaku. Semoga apa yang aku putuskan akan menjadi yang baik bagiku, hanya kepada-Mu ku serahkan.
Sekarang aku telah membulatkan niatku, aku memberi kesempatan kepadanya, dengan semua perjuanganku saat itu semoga dia pun begitu, dapat menyayangiku dengan sepenuhnya. Bukan sebuah kesempurnaan fisik  yang aku cari tapi kesempurnaan saat dia menyayangiku. Aku menyerahkan semuanya kepada-Mu ya Rabb, jika memang dia jodohku bukalah jalan untuk ku capai Ridho-Mu bersamanya. Ya Nur Qolbi Ya Allah Azza waa Jalla.
Uhhibbuki fiillah.  1.1.12


My Star is You

Diposting oleh yayan nurlian di 20.05 0 komentar

Dingin malam ini, sangat menusuk sampai ketulangku, tapi itu tidak membuatku beranjak dari tempat duduk ku yaitu diteras rumah yang biasa menjadi tempat aku melepas semua kepenatan dan kegundahanku.
Langit malam ini gelap, tak satu pun bintang kutemukan di sana. Aku sedikit kecewa, karena aku tak bisa bercerita tentang semua keresahanku malam ini.
“ hmm..mungkin besok langitnya akan cerah, aku akan menyimpan semuanya hingga besok malam,” ucapku dalam hati.
Aku kemudian memutuskan untuk masuk kedalam  kamar, melabuhkan semuanya keperaduan peristirahatan , melupakan sejenak apa yang terjadi hari ini dengan menutup mata.
**
Silau cahaya matahari pagi menerobos masuk dari kaca jendela. Ku lihat ibu sudah berada di kamarku sambil membuka tirai jendela, Ibu pun tersenyum.
“ tidurnya pulas banget, ibu jadi gak tega buat bangunin kamu sayang.” Ibu lalu duduk di tempat tidurku , sambil membelai rambutku dengan penuh cinta.
“ iya bu,,ra tadi malam tidurnya enak, gak tau sampai kesiangan gini.”
“ kamu mau sarapan ? ibu ambilin ya ?”
“iya bu..makasih ya.” Ibu lalu meninggalkanku sendiri.
 Aku adalah seorang anak yatim, ayahku setahun yang lalu meninggal dunia karena kecelakaan pesawat. Saat itu ayahku yang sedang di tugaskan oleh kantornya untuk melakukan workshop di jakarta, saat ingin pulang kerumah ( pontianak, kalimantan barat ) pesawat yang di tumpangi ayah mengalami kerusakan dan jatuh ke laut, alhamdulillah jenazah ayah masih di temukan oleh tim sars saat itu. Kehilangan Ayah sangat membuat ibu dan aku terpukul, kami sangat kehilangan ayah, tidak hanya itu, ibu kembali mendapat cobaan yang membuat ibu hampir menyerah yaitu kejadian lima bulan lalu saat aku mengalami kecelakaan yang mengharuskan kakiku untuk di amputasi. Ku tahu saat itu ibu sangat terpuruk, begitu banyak cobaan yang harus ibu terima, meskipun begitu ibu tidak pernah mengeluh dan memperlihatkan wajah sedihnya di depanku, malah ibu yang selalu berusaha untuk menyemangatiku, meskipun aku sadar betul ibu juga sangat butuh seorang penyemangat. Sejak saat itu aku di vonis tidak bisa berjalan , aku harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas. Saat itu aku yang masih duduk di semester II jurusan Tehnik Informatika harus berhenti kuliah mengingat keadaanku. Hanya ibu yang aku punya saat itu, sebuah mutiara yang sangat tak ternilai yaitu  sebuah kasih sayang dari seorang ibu.
***
Guguran kelopak mawar tampak berserak di tanah, embun pun perlahan mengering di daunan karena sang surya mulai tampak menyebarkan sinar cinta untuk semua makhluk ciptaan-Nya. Aku bersyukur pagi ini masih  bisa menghirup udara segar dan menikmati pemandangan di luar. Aku yang hanya ditemani kursi rodaku , memperhatikan ibu yang sedang menyapu halaman, ku perhatikan wajah ibu, tampak kerutan dan garis-garis halus  di wajahnya . usia ibu sudah empat puluh tahun lebih, tapi semangat dan tenaganya masih sangat kuat, “ kasihan ibu “, ucapku dalam hati.
Tiba –tiba pandanganku menembus hingga keseberang jalan, tampak seseorang yang tak ku kenal berdiri di halaman rumahnya, kebetulan rumahnya tepat di depan rumahku.
“ dia adalah Dion anak tante Yuli, dia baru pulang dari jepang.” Terdengar suara ibu, yang ternyata dari tadi  memperhatikanku.
“ oh..heeh..iya bu , pantesan ra gak pernah liat,” jawabku sedikit malu
“ dia menyelesaikan S1 nya di sana, dan dapat beasiswa lagi.”
“ ohh,,gitu ya bu, pasti pinter deh anaknya ,“ aku mencoba menambahkan, bukan hanya pinter tapi juga sangat manis tentunya, bisikku dalam hati.
Pandanganku masih mengarah kesosok yang menarik perhatianku itu, entah apa yang sedang di kerjakannya. Tiba-tiba sosok yang ibu bilang bernama dion itu menoleh ke arahku dan dia melambaikan tangannya ke arahku. Aku terkejut, apa dari tadi dia juga memperhatikan aku ya? Aku meletakkan tangan ke dadaku, seakan bertanya apakah yang di maksudnya itu adalah aku ?
Dia mengangguk kecil, dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Dia tampaknya sedikit kecewa.
“ kapan-kapan ibu ajak dion main kerumah ya, supaya kalian bisa berkenalan,” aku di kagetkan oleh suara ibu.
“ hmm, terserah ibu deh. Siapa tau ra bisa dapat teman baru  dan yang pasti dapat cerita baru nanti.”  Aku lalu masuk kedalam meninggalkan ibu yang masih sibuk membersihkan halaman.
Seribu tanya terbesit dalam hatiku, ada dorongan yang  menyuruhku untuk lebih mengenalnya.
“ dion..dion..dion,,akhh kenapa dia malah mampir di pikiran aku sih.” Aku cepat-cepat membangunkan lamunanku.
***
Tiada hari yang ku lewati tanpa di temani sepi. Aku kembali tersandar di kursi rodaku, menatap langit yang merona jingga di ufuk barat, biasnya yang membentuk fatamorgana, membuat ciptaan-Nya tampak jadi semakin indah, Subhanallah.
Tiba-tiba pandanganku beralih kedepan  tepat di pagar rumahku, terlihat seorang laki-laki berdiri di sana, yang tak terlewatkan dari pandanganku yaitu sebuah senyuman manis menghias wajahnya. Ashtarfirullah..aku sangat terpesona dengan ciptaan Allah yang satu ini, sungguh membuat hatiku deg-degan. Aku membalas senyumannya.
“ Hey..apa aku boleh masuk ?” dia sedikit berteriak, berhubung arah pagar dengan tempat aku duduk lumayan jauh, sehingga mengharuskannya untuk berteriak. Aku bingung..gak tau harus jawab apa, pikiranku berkecamuk antara senang dan tidak percaya.
“ Aku tidak boleh masuk ya ?” ia kembali bertanya
“Eh..iya..duuh, boleh, boleh..mas. silahkan masuk, pagarnya gak di kunci kok.” Duh..ya Allah kenapa jadi deg-degan gini seh, ucapku dalam hti.
“Assalamualaikum.”
“ Waalaikumsalam, silahkan masuk mas,” jawabku
“kok  sendirian? tante Ely kemana?” tanya nya, sambil ia mengambil posisi duduk di sebelah kursi rodaku.
“ ada kok mas, mungkin lagi sibuk di belakang.”
“ oh iya, aku kemarin liat kamu di sini, aku gak banyak kenal sama tetangga karena lama kuliah di luar, perkenalkan  namaku dion, anaknya tante Yuli .” dia mengulurkan tangannya
“ namaku Zahra, iya ibu juga ada bilang kalo mas dion baru pulang dari jepang karena kuliah di sana.”
“waah, tante ely ada cerita ya, pasti mama deh yang cerita, secara mama teman arisan tante ely.”
“ iya mas.” Aku banyak diam
  namanya Zahra ya, wah kalau gak salah artinya bunga berwarna putih kan, nice name .”
“ iya mas benar, gak tau juga deh..mungkin ibu kepengen ra seperti bunga kali.” Aku menjelaskan
“ wow,, i like it, ZAHRA ..namanya sama seperti orangnya, selalu ceria dan tersenyum.”
“mas gak usah terlalu memuji, ra jadi malu nih.” Aku mulai tersipu mendengar pujiannya
“ emang benar kok, jarang lho ada orang yang kayak kamu, maaf sebelumnya, meskipun kamu punya kekurangan tapi tetap memperlihatkan keceriaan kamu, mas sukanya itu.”
Aku dan mas dion saling bercerita, mulai dari cerita awal tentang kecelakaan yang menimpaku  menyebabkan aku tidak bisa berjalan hingga cerita tentang pengalamannya berada di negri sakura. Aku sebenarnya tidak menyangka bisa berkenalan sekaligus bercerita panjang lebar dengannya, bagaikan mimpi rasanya aku bisa ngobrol berdua dengannya. Anaknya baik, dewasa , gak sombong , gak pilih teman, dan asyik tentunya. Aku harap ini bukan pertemuan kami yang terakhir, aku berharap bisa kembali bercerita dengannya nanti. Akhirnya  mas dion pamitan pulang karena ada urusan ujarnya, meskipun sebentar tapi dia banyak memberikanku semangat dan motivasi, apapun keadaannya jadikanlah kekurangan menjadi sebuah kelebihan dari kita, itu yang di katakan mas dion.
Setelah kejadian itu, aku lebih sering duduk di teras depan rumahku,berharap sosok itu kembali menyapa. Aku juga gak tahu, ada yang berbeda dari sosok itu, dari sisi lain  aku merasa dia seperti Ayah, banyak nasehat yang dia berikan padaku. Aku memang gak pernah keluar rumah semenjak kecelakaan itu, sehingga semua aktivitasku berada di rumah, aku kadang benci harus ketemu orang lain karena aku merasa aku gak sama dengan mereka, sehingga aku memutuskan untuk tetap seperti ini, tapi berbeda dengan dion, dia berbeda dengan yang lain, aku sama sekali tidak merasa di kucilkan, dia tidak mempermasalahkan keadaanku bahkan dia pernah bilang semua orang sama, punya hak yang sama, jadi jangan pernah merasa terkucilkan, anggap itu adalah sebuah kelebihan yang harus di syukuri. Itu akan jauh lebih indah dan nikmat.
“Ra..udah maghrib, masuk yuk.” Terdengar suara ibu sedikit mengagetkanku, aku baru sadar entah berapa jam aku duduk termangu sambil melamun di sini. Senja menutup hari, malampun berlabuh.
Aku merebahkan tubuhku, lelah seharian duduk di kursi roda membuat tubuhku terasa sangat nyaman dengan posisi seperti ini. Sayup deru sang bayu terdengar bermain mesra dengan dedaunan, di sertai bunyi burung hantu melengkapi malam yang hening dan sangat dingin ini, pikiranku melayang mengitari dunia malam.
**
“ Zahra..tunggu,” terdengar seseorang memanggilku.
Aku menoleh kebelakang, tampak dari kejauhan seseorang berlari kecil ke arahku, saat itu jalan sedikit kabut karena embun yang masih basah. Ku lihat sosok itu semakin mendekat dan sedikit demi sedikit tubuh tinggi itu tampak semakin jelas, yaa dia seseorang yang ku kenal. Tubuh tinggi dan berkacamata, wajah yang masih ku ingat karena pertemuan beberapa hari yang lalu. Dia menghampiriku.
 “ mau kemana neng geulis ?”
“ mau jalan mas, kepantai.”
“ aku temenin yaa..,”
“ hmm..boleh, tapi....,” tak sempat aku melanjutkannya, dia langsung menyambar pegangan kursi rodaku dan mendorongnya.
“ aku udah lama banget gak ke pantai, semenjak melanjutkan kuliahku di jepang, waktu kecil di setiap sore aku pasti mandi ke pantai bersama teman-temanku setelah seharian bermain, gimana suasana pantainya, apakah masih seperti dulu atau sudah ada perubahannya.” Dia bercerita panjang lebar.
Aku  hanya bisa diam mendengarkan ceritanya, yang terlintas di pikiranku saat itu adalah mungkin dia merindukan masa kecilnya. Entahlah .
Tak terasa perjalanan kami telah sampai tujuan, tampak kabut mengapung di permukaan laut, seperti air panas yang mengeluarkan uap panas saat mendidih. Angin pantai terasa langsung menyambar tubuhku terasa sangat dingin menembus daging hingga terasa ketulang.
“ kamu kedinginan ra ?” suaranya tiba-tiba memecahkan keheningan. Aku mengangguk kecil .
“ ini pake aja jaketku, mungkin bisa sedikit menghangatkan tubuhmu.” Dia langsung meletakkan jaketnya kepundakku, jaket rajut tebal telah menutup sebagian tubuh mungilku ini, terasa hangat.
Dia lalu meninggalkanku, berlari ke bibir pantai, air yang semula tenang menjadi riuh saat kakinya menyentuh air laut itu. Percikan demi percikan tampak terlihat karena larian girang tubuh tingginya. Aku hanya bisa menyaksikan pemandangan itu dengan tersenyum. Seorang pemuda yang sedang melepas rindu akan masa kecilnya tampak sudah terbayarkan. Aku menghela nafas...
“ Ra...lihat aku.”
Aku tersentak dari lamunan mendengar panggilannya. Ia melambai – lambaikan tangannya kearahku.  Aku hanya melempar senyum menyapa panggilannya.
“ airnya segar ra..pasti enak banget kalau mandi di sini, kamu gak kepengen bermain air denganku ? asyik lhoo.” Aku hanya menggeleng
“ ups...sorry aku gak ada maksud apa-apa, maaf ya.” Aku kembali tersenyum.
Setelah puas bermain dengan air laut, berlari-lari dan bernyanyi melepaskan semuanya, ia lalu  menghampiriku dan duduk di samping kursi rodaku. Sambil merangkul kedua lututnya, ia menghela nafas. Pandangannya lepas  tertuju ke laut, entah apa yang sedang di pikirkannya, tiba-tiba bersikap aneh seperti ini. Dia terdiam.
“ Ra, mungkin ini pertemuan kita yang terakhir .” dion menundukkan kepalanya.
“ kenapa ? maksud mas apa, kenapa harus pertemuan terakhir ?” aku berusaha mencari kejelasan.
“ aku akan pergi jauh, mugkin gak akan balik lagi untuk ketemu kamu.”
“ tapi mas.. ,“ aku terdiam sejenak , sesuatu terasa memberontak di hatiku, air mata ku tak bisa untuk ku tahan lagi. Aku menangis.
“ tapi kenapa harus pergi mas, ra masih butuh mas di sini, ra gak mau mas pergi.” Aku berusaha menggerakkan kursi rodaku mendekati dia yang sedari tadi bertingkah aneh. Dia hanya diam.
“ mas jangan pergi ya,” aku memegang pundaknya, berusaha untuk mengembalikan keadaan. Tapi tak kusangka, dia malah menepis tanganku, dia  berdiri lalu menatapku tajam.
“ mas kenapa ?” seribu pertanyaan berkecamuk di otakku, dia aneh.
Dia mendekatiku, menatapku dengan penuh makna. Suatu hal yang tak pernah terbayang olehku, suatu kejadian yang menurutku sangat membuat jantungku seperti di sambar petir pun terjadi. Dia memelukku. Memelukku dengan sangat erat, aku tidak dapat berkata-kata, selain membiarkan tubuh mungilku ini di rangkul oleh seorang lelaki jangkung.
Dia diam, sama sekali tak ku dengar suaranya. Yang lebih membuatku bingung adalah dia menangis. Melihat keadaan ini , aku juga tidak tau dapat dorongan dari mana sehingga membuatku berani untuk mengusap punggungnya. Layaknya seorang ibu yang sedang menghibur anaknya disaat anaknya menangis. Aku mencoba melepaskan rangkulannya dengan perlahan, tapi dia malah memelukku dengan erat lagi.
“ ra...aku gak mau pergi tapi keadaan yang mengharuskan aku untuk pergi, aku gak mau ninggalin kamu tapi aku tetap harus pergi ,” dia melepaskan pelukannya dan duduk di depanku. Dia mengusap air matanya, aku yang saat itu masih bingung dengan tingkah anehnya pun terdiam membisu.
“ ra..ini kenangan terakhir dari aku, di simpan baik-baik.” Dia mengeluarkan sesuatu dari belakangnya, yaah sebuah bintang laut, sangat cantik.
“ kalau kamu kangen, letakkan aja bintang laut ini di dada kamu, bayangkan aku ada  di dekatmu, karena aku selalu ada di hati kamu.”  Aku hanya bisa terdiam.
Dia lalu beranjak dari duduknya, berdiri dan menggenggam kedua tanganku.
“ ingat ya ra, i still stay in your heart, don’t forget me.” Aku tetap terdiam, bingung harus mengatakan apa dan melakukan apa.
Dia perlahan melepaskan tanganku, perlahan menjauhiku. Dia tersenyum. Aku semakin bingung harus bagaimana, melihat keadaan seperti ini aku mencoba memanggilnya berharap dia mengerti bahwa aku tidak mengerti apa makudnya. Tapi tetap saja dia membalikkan badannya dan beranjak pergi. Aku berusaha untuk mengejarnya,tapi aku sadar untuk hal itu tak mungkin bisa kulakukan, mengingat keadaanku yang seperti ini. Tapi aku tetap memaksa kakiku  untuk bergerak, tapi tetap saja aku tak bisa melakukannya. Sehingga aku pun terjatuh dari kursi rodaku, aku tersungkur di atas pasir pantai. Kulihat dia tetap saja berjalan tanpa melihatku yang sedang terjatuh. Aku tetap berusaha untuk bergerak mengejarnya, tapi yang kulihat dia tetap berjalan dan sesekali menoleh kearahku seraya melambaikan tangannya.
Akhh..aku mulai pasrah, aku hanya bisa menatap dia pergi tanpa bisa melakukan apa-apa. Aku menyesal dengan keadaanku. Aku menangis.
Selang beberapa menit, Aku terkejut ada seseorang yang menepuk bahuku, aku sangat berharap seseorang yang sedang menepuk bahuku ini adalah mas dion. Aku mencoba memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, ku yakinkan hatiku dan ku percaya mas dion gak akan tega meninggalkanku dengan keadaan seperti ini. Aku pun menoleh kebelakang, tapi yang kulihat adalah sebuah sinar, silau penglihatanku. Aku menggosok-gosok mataku seraya memaksa mataku untuk melihat di balik sinar itu. Tanpa kusadari, ternyata di sebalik sinar itu ada sosok yang sangat aku kenal,,yaah sangat ku kenal. Dia adalah ibu,,senyum manis tergambar di wajahnya.
“ Aduh,,anak ibu kok kesiangan ? mimpi apa seh kok enak banget tidurnya?” ibu membangunkanku. Sinar matahari yang tembus dari jendela kamarku, membuatku tersadar penuh bahwa aku benar-benar bermimpi.
“ ibu, udah lama ya di sini, ra kesiangan lagi ya..?” Ibu hanya tersenyum melihat tingkahku yang seperti orang bingung.
Apa maksud dari mimpi aku ini ? tentang kepergiannya ? bintang laut ? dan semua yang terjadi di dalam mimpi tadi. Akhh mungkin aku terlalu memikirkannya dan berharap untuk bisa bertemu dengannya lagi, meskipun sebenarnya di dalam hati kecilku  berkata andai mimpi ini adalah kenyataan.
***
Seminggu setelah kejadian mimpi itu, aku masih saja memikirkannya. Mengapa harus mas dion ? apa maksud dari ucapannya ? apa maksud kenangan berupa bintang laut itu ? pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikiranku.
“ ra .. kamu ingat kan sama dion anaknya tante yuli ?” Tegg..jantungku berdegup tiba-tiba mendengar ibu menyebut nama mas dion. Seakan ibu tahu apa yang sedang aku pikirkan.
“ iya,,emang ada apa bu ?” aku mencoba menutupinya
“ dia mau nikah lho, tadi bu Yuli ceita sama ibu, bahwa minggu depan dia akan melangsungkan pernikahannya itu, calon istrinya seorang dokter lagi.” Ibi bercerita
“ masa’ sih bu, gak mungkin deh...ehh oh gitu yaa,,hehe alhamdulillah deh kalo gitu.” Aku kaget banget setelah mendengar cerita ibu, mas dion mau menikah dengan seorang dokter ? arrghh aku kenapa ? masih belum bisa menerima kenyataan yang sebenarnya aku saat itu hanya bermimpi, Ya Allah sadarkan hambamu ini. Aku mencoba menyadarkan.
“ kamu kenapa sayang kok jadi aneh gitu ? oh iya tadi tante Yuli  juga udah memberikan undangan pernikahan anaknya.”
“ gak apa-apa bu, ra seneng dengarnya .“
Suatu keadaan yang membuatku kembali drop, harus merasa kehilangan mskipun kenyataan semuanya hanya mimpi, aku meyakinkan hatiku bahwa semua itu adalah hanya mimpi, dan aku harus terima itu. Meskipun hanya sekali bertemu ,tapi aku merasakan ada sesuatu yang tak bisa aku ungkapkan. Bintang laut itu juga hanya sebuah mimpi tetapi dion tetap menjadi bintang  hatiku, aku tidak bisa menjelaskan untuk yang satu ini.
“ mas dion, i still in your heart ,because my star is you. Don’t forget me.” Te