Dingin malam ini, sangat menusuk sampai ketulangku, tapi itu tidak membuatku beranjak dari tempat duduk ku yaitu diteras rumah yang biasa menjadi tempat aku melepas semua kepenatan dan kegundahanku.
Langit malam ini gelap, tak satu pun bintang kutemukan di sana. Aku sedikit kecewa, karena aku tak bisa bercerita tentang semua keresahanku malam ini.
“ hmm..mungkin besok langitnya akan cerah, aku akan menyimpan semuanya hingga besok malam,” ucapku dalam hati.
Aku kemudian memutuskan untuk masuk kedalam kamar, melabuhkan semuanya keperaduan peristirahatan , melupakan sejenak apa yang terjadi hari ini dengan menutup mata.
**
Silau cahaya matahari pagi menerobos masuk dari kaca jendela. Ku lihat ibu sudah berada di kamarku sambil membuka tirai jendela, Ibu pun tersenyum.
“ tidurnya pulas banget, ibu jadi gak tega buat bangunin kamu sayang.” Ibu lalu duduk di tempat tidurku , sambil membelai rambutku dengan penuh cinta.
“ iya bu,,ra tadi malam tidurnya enak, gak tau sampai kesiangan gini.”
“ kamu mau sarapan ? ibu ambilin ya ?”
“iya bu..makasih ya.” Ibu lalu meninggalkanku sendiri.
Aku adalah seorang anak yatim, ayahku setahun yang lalu meninggal dunia karena kecelakaan pesawat. Saat itu ayahku yang sedang di tugaskan oleh kantornya untuk melakukan workshop di jakarta, saat ingin pulang kerumah ( pontianak, kalimantan barat ) pesawat yang di tumpangi ayah mengalami kerusakan dan jatuh ke laut, alhamdulillah jenazah ayah masih di temukan oleh tim sars saat itu. Kehilangan Ayah sangat membuat ibu dan aku terpukul, kami sangat kehilangan ayah, tidak hanya itu, ibu kembali mendapat cobaan yang membuat ibu hampir menyerah yaitu kejadian lima bulan lalu saat aku mengalami kecelakaan yang mengharuskan kakiku untuk di amputasi. Ku tahu saat itu ibu sangat terpuruk, begitu banyak cobaan yang harus ibu terima, meskipun begitu ibu tidak pernah mengeluh dan memperlihatkan wajah sedihnya di depanku, malah ibu yang selalu berusaha untuk menyemangatiku, meskipun aku sadar betul ibu juga sangat butuh seorang penyemangat. Sejak saat itu aku di vonis tidak bisa berjalan , aku harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas. Saat itu aku yang masih duduk di semester II jurusan Tehnik Informatika harus berhenti kuliah mengingat keadaanku. Hanya ibu yang aku punya saat itu, sebuah mutiara yang sangat tak ternilai yaitu sebuah kasih sayang dari seorang ibu.
***
Guguran kelopak mawar tampak berserak di tanah, embun pun perlahan mengering di daunan karena sang surya mulai tampak menyebarkan sinar cinta untuk semua makhluk ciptaan-Nya. Aku bersyukur pagi ini masih bisa menghirup udara segar dan menikmati pemandangan di luar. Aku yang hanya ditemani kursi rodaku , memperhatikan ibu yang sedang menyapu halaman, ku perhatikan wajah ibu, tampak kerutan dan garis-garis halus di wajahnya . usia ibu sudah empat puluh tahun lebih, tapi semangat dan tenaganya masih sangat kuat, “ kasihan ibu “, ucapku dalam hati.
Tiba –tiba pandanganku menembus hingga keseberang jalan, tampak seseorang yang tak ku kenal berdiri di halaman rumahnya, kebetulan rumahnya tepat di depan rumahku.
“ dia adalah Dion anak tante Yuli, dia baru pulang dari jepang.” Terdengar suara ibu, yang ternyata dari tadi memperhatikanku.
“ oh..heeh..iya bu , pantesan ra gak pernah liat,” jawabku sedikit malu
“ dia menyelesaikan S1 nya di sana, dan dapat beasiswa lagi.”
“ ohh,,gitu ya bu, pasti pinter deh anaknya ,“ aku mencoba menambahkan, bukan hanya pinter tapi juga sangat manis tentunya, bisikku dalam hati.
Pandanganku masih mengarah kesosok yang menarik perhatianku itu, entah apa yang sedang di kerjakannya. Tiba-tiba sosok yang ibu bilang bernama dion itu menoleh ke arahku dan dia melambaikan tangannya ke arahku. Aku terkejut, apa dari tadi dia juga memperhatikan aku ya? Aku meletakkan tangan ke dadaku, seakan bertanya apakah yang di maksudnya itu adalah aku ?
Dia mengangguk kecil, dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Dia tampaknya sedikit kecewa.
“ kapan-kapan ibu ajak dion main kerumah ya, supaya kalian bisa berkenalan,” aku di kagetkan oleh suara ibu.
“ hmm, terserah ibu deh. Siapa tau ra bisa dapat teman baru dan yang pasti dapat cerita baru nanti.” Aku lalu masuk kedalam meninggalkan ibu yang masih sibuk membersihkan halaman.
Seribu tanya terbesit dalam hatiku, ada dorongan yang menyuruhku untuk lebih mengenalnya.
“ dion..dion..dion,,akhh kenapa dia malah mampir di pikiran aku sih.” Aku cepat-cepat membangunkan lamunanku.
***
Tiada hari yang ku lewati tanpa di temani sepi. Aku kembali tersandar di kursi rodaku, menatap langit yang merona jingga di ufuk barat, biasnya yang membentuk fatamorgana, membuat ciptaan-Nya tampak jadi semakin indah, Subhanallah.
Tiba-tiba pandanganku beralih kedepan tepat di pagar rumahku, terlihat seorang laki-laki berdiri di sana, yang tak terlewatkan dari pandanganku yaitu sebuah senyuman manis menghias wajahnya. Ashtarfirullah..aku sangat terpesona dengan ciptaan Allah yang satu ini, sungguh membuat hatiku deg-degan. Aku membalas senyumannya.
“ Hey..apa aku boleh masuk ?” dia sedikit berteriak, berhubung arah pagar dengan tempat aku duduk lumayan jauh, sehingga mengharuskannya untuk berteriak. Aku bingung..gak tau harus jawab apa, pikiranku berkecamuk antara senang dan tidak percaya.
“ Aku tidak boleh masuk ya ?” ia kembali bertanya
“Eh..iya..duuh, boleh, boleh..mas. silahkan masuk, pagarnya gak di kunci kok.” Duh..ya Allah kenapa jadi deg-degan gini seh, ucapku dalam hti.
“Assalamualaikum.”
“ Waalaikumsalam, silahkan masuk mas,” jawabku
“kok sendirian? tante Ely kemana?” tanya nya, sambil ia mengambil posisi duduk di sebelah kursi rodaku.
“ ada kok mas, mungkin lagi sibuk di belakang.”
“ oh iya, aku kemarin liat kamu di sini, aku gak banyak kenal sama tetangga karena lama kuliah di luar, perkenalkan namaku dion, anaknya tante Yuli .” dia mengulurkan tangannya
“ namaku Zahra, iya ibu juga ada bilang kalo mas dion baru pulang dari jepang karena kuliah di sana.”
“waah, tante ely ada cerita ya, pasti mama deh yang cerita, secara mama teman arisan tante ely.”
“ iya mas.” Aku banyak diam
“ namanya Zahra ya, wah kalau gak salah artinya bunga berwarna putih kan, nice name .”
“ iya mas benar, gak tau juga deh..mungkin ibu kepengen ra seperti bunga kali.” Aku menjelaskan
“ wow,, i like it, ZAHRA ..namanya sama seperti orangnya, selalu ceria dan tersenyum.”
“mas gak usah terlalu memuji, ra jadi malu nih.” Aku mulai tersipu mendengar pujiannya
“ emang benar kok, jarang lho ada orang yang kayak kamu, maaf sebelumnya, meskipun kamu punya kekurangan tapi tetap memperlihatkan keceriaan kamu, mas sukanya itu.”
Aku dan mas dion saling bercerita, mulai dari cerita awal tentang kecelakaan yang menimpaku menyebabkan aku tidak bisa berjalan hingga cerita tentang pengalamannya berada di negri sakura. Aku sebenarnya tidak menyangka bisa berkenalan sekaligus bercerita panjang lebar dengannya, bagaikan mimpi rasanya aku bisa ngobrol berdua dengannya. Anaknya baik, dewasa , gak sombong , gak pilih teman, dan asyik tentunya. Aku harap ini bukan pertemuan kami yang terakhir, aku berharap bisa kembali bercerita dengannya nanti. Akhirnya mas dion pamitan pulang karena ada urusan ujarnya, meskipun sebentar tapi dia banyak memberikanku semangat dan motivasi, apapun keadaannya jadikanlah kekurangan menjadi sebuah kelebihan dari kita, itu yang di katakan mas dion.
Setelah kejadian itu, aku lebih sering duduk di teras depan rumahku,berharap sosok itu kembali menyapa. Aku juga gak tahu, ada yang berbeda dari sosok itu, dari sisi lain aku merasa dia seperti Ayah, banyak nasehat yang dia berikan padaku. Aku memang gak pernah keluar rumah semenjak kecelakaan itu, sehingga semua aktivitasku berada di rumah, aku kadang benci harus ketemu orang lain karena aku merasa aku gak sama dengan mereka, sehingga aku memutuskan untuk tetap seperti ini, tapi berbeda dengan dion, dia berbeda dengan yang lain, aku sama sekali tidak merasa di kucilkan, dia tidak mempermasalahkan keadaanku bahkan dia pernah bilang semua orang sama, punya hak yang sama, jadi jangan pernah merasa terkucilkan, anggap itu adalah sebuah kelebihan yang harus di syukuri. Itu akan jauh lebih indah dan nikmat.
“Ra..udah maghrib, masuk yuk.” Terdengar suara ibu sedikit mengagetkanku, aku baru sadar entah berapa jam aku duduk termangu sambil melamun di sini. Senja menutup hari, malampun berlabuh.
Aku merebahkan tubuhku, lelah seharian duduk di kursi roda membuat tubuhku terasa sangat nyaman dengan posisi seperti ini. Sayup deru sang bayu terdengar bermain mesra dengan dedaunan, di sertai bunyi burung hantu melengkapi malam yang hening dan sangat dingin ini, pikiranku melayang mengitari dunia malam.
**
“ Zahra..tunggu,” terdengar seseorang memanggilku.
Aku menoleh kebelakang, tampak dari kejauhan seseorang berlari kecil ke arahku, saat itu jalan sedikit kabut karena embun yang masih basah. Ku lihat sosok itu semakin mendekat dan sedikit demi sedikit tubuh tinggi itu tampak semakin jelas, yaa dia seseorang yang ku kenal. Tubuh tinggi dan berkacamata, wajah yang masih ku ingat karena pertemuan beberapa hari yang lalu. Dia menghampiriku.
“ mau kemana neng geulis ?”
“ mau jalan mas, kepantai.”
“ aku temenin yaa..,”
“ hmm..boleh, tapi....,” tak sempat aku melanjutkannya, dia langsung menyambar pegangan kursi rodaku dan mendorongnya.
“ aku udah lama banget gak ke pantai, semenjak melanjutkan kuliahku di jepang, waktu kecil di setiap sore aku pasti mandi ke pantai bersama teman-temanku setelah seharian bermain, gimana suasana pantainya, apakah masih seperti dulu atau sudah ada perubahannya.” Dia bercerita panjang lebar.
Aku hanya bisa diam mendengarkan ceritanya, yang terlintas di pikiranku saat itu adalah mungkin dia merindukan masa kecilnya. Entahlah .
Tak terasa perjalanan kami telah sampai tujuan, tampak kabut mengapung di permukaan laut, seperti air panas yang mengeluarkan uap panas saat mendidih. Angin pantai terasa langsung menyambar tubuhku terasa sangat dingin menembus daging hingga terasa ketulang.
“ kamu kedinginan ra ?” suaranya tiba-tiba memecahkan keheningan. Aku mengangguk kecil .
“ ini pake aja jaketku, mungkin bisa sedikit menghangatkan tubuhmu.” Dia langsung meletakkan jaketnya kepundakku, jaket rajut tebal telah menutup sebagian tubuh mungilku ini, terasa hangat.
Dia lalu meninggalkanku, berlari ke bibir pantai, air yang semula tenang menjadi riuh saat kakinya menyentuh air laut itu. Percikan demi percikan tampak terlihat karena larian girang tubuh tingginya. Aku hanya bisa menyaksikan pemandangan itu dengan tersenyum. Seorang pemuda yang sedang melepas rindu akan masa kecilnya tampak sudah terbayarkan. Aku menghela nafas...
“ Ra...lihat aku.”
Aku tersentak dari lamunan mendengar panggilannya. Ia melambai – lambaikan tangannya kearahku. Aku hanya melempar senyum menyapa panggilannya.
“ airnya segar ra..pasti enak banget kalau mandi di sini, kamu gak kepengen bermain air denganku ? asyik lhoo.” Aku hanya menggeleng
“ ups...sorry aku gak ada maksud apa-apa, maaf ya.” Aku kembali tersenyum.
Setelah puas bermain dengan air laut, berlari-lari dan bernyanyi melepaskan semuanya, ia lalu menghampiriku dan duduk di samping kursi rodaku. Sambil merangkul kedua lututnya, ia menghela nafas. Pandangannya lepas tertuju ke laut, entah apa yang sedang di pikirkannya, tiba-tiba bersikap aneh seperti ini. Dia terdiam.
“ Ra, mungkin ini pertemuan kita yang terakhir .” dion menundukkan kepalanya.
“ kenapa ? maksud mas apa, kenapa harus pertemuan terakhir ?” aku berusaha mencari kejelasan.
“ aku akan pergi jauh, mugkin gak akan balik lagi untuk ketemu kamu.”
“ tapi mas.. ,“ aku terdiam sejenak , sesuatu terasa memberontak di hatiku, air mata ku tak bisa untuk ku tahan lagi. Aku menangis.
“ tapi kenapa harus pergi mas, ra masih butuh mas di sini, ra gak mau mas pergi.” Aku berusaha menggerakkan kursi rodaku mendekati dia yang sedari tadi bertingkah aneh. Dia hanya diam.
“ mas jangan pergi ya,” aku memegang pundaknya, berusaha untuk mengembalikan keadaan. Tapi tak kusangka, dia malah menepis tanganku, dia berdiri lalu menatapku tajam.
“ mas kenapa ?” seribu pertanyaan berkecamuk di otakku, dia aneh.
Dia mendekatiku, menatapku dengan penuh makna. Suatu hal yang tak pernah terbayang olehku, suatu kejadian yang menurutku sangat membuat jantungku seperti di sambar petir pun terjadi. Dia memelukku. Memelukku dengan sangat erat, aku tidak dapat berkata-kata, selain membiarkan tubuh mungilku ini di rangkul oleh seorang lelaki jangkung.
Dia diam, sama sekali tak ku dengar suaranya. Yang lebih membuatku bingung adalah dia menangis. Melihat keadaan ini , aku juga tidak tau dapat dorongan dari mana sehingga membuatku berani untuk mengusap punggungnya. Layaknya seorang ibu yang sedang menghibur anaknya disaat anaknya menangis. Aku mencoba melepaskan rangkulannya dengan perlahan, tapi dia malah memelukku dengan erat lagi.
“ ra...aku gak mau pergi tapi keadaan yang mengharuskan aku untuk pergi, aku gak mau ninggalin kamu tapi aku tetap harus pergi ,” dia melepaskan pelukannya dan duduk di depanku. Dia mengusap air matanya, aku yang saat itu masih bingung dengan tingkah anehnya pun terdiam membisu.
“ ra..ini kenangan terakhir dari aku, di simpan baik-baik.” Dia mengeluarkan sesuatu dari belakangnya, yaah sebuah bintang laut, sangat cantik.
“ kalau kamu kangen, letakkan aja bintang laut ini di dada kamu, bayangkan aku ada di dekatmu, karena aku selalu ada di hati kamu.” Aku hanya bisa terdiam.
Dia lalu beranjak dari duduknya, berdiri dan menggenggam kedua tanganku.
“ ingat ya ra, i still stay in your heart, don’t forget me.” Aku tetap terdiam, bingung harus mengatakan apa dan melakukan apa.
Dia perlahan melepaskan tanganku, perlahan menjauhiku. Dia tersenyum. Aku semakin bingung harus bagaimana, melihat keadaan seperti ini aku mencoba memanggilnya berharap dia mengerti bahwa aku tidak mengerti apa makudnya. Tapi tetap saja dia membalikkan badannya dan beranjak pergi. Aku berusaha untuk mengejarnya,tapi aku sadar untuk hal itu tak mungkin bisa kulakukan, mengingat keadaanku yang seperti ini. Tapi aku tetap memaksa kakiku untuk bergerak, tapi tetap saja aku tak bisa melakukannya. Sehingga aku pun terjatuh dari kursi rodaku, aku tersungkur di atas pasir pantai. Kulihat dia tetap saja berjalan tanpa melihatku yang sedang terjatuh. Aku tetap berusaha untuk bergerak mengejarnya, tapi yang kulihat dia tetap berjalan dan sesekali menoleh kearahku seraya melambaikan tangannya.
Akhh..aku mulai pasrah, aku hanya bisa menatap dia pergi tanpa bisa melakukan apa-apa. Aku menyesal dengan keadaanku. Aku menangis.
Selang beberapa menit, Aku terkejut ada seseorang yang menepuk bahuku, aku sangat berharap seseorang yang sedang menepuk bahuku ini adalah mas dion. Aku mencoba memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, ku yakinkan hatiku dan ku percaya mas dion gak akan tega meninggalkanku dengan keadaan seperti ini. Aku pun menoleh kebelakang, tapi yang kulihat adalah sebuah sinar, silau penglihatanku. Aku menggosok-gosok mataku seraya memaksa mataku untuk melihat di balik sinar itu. Tanpa kusadari, ternyata di sebalik sinar itu ada sosok yang sangat aku kenal,,yaah sangat ku kenal. Dia adalah ibu,,senyum manis tergambar di wajahnya.
“ Aduh,,anak ibu kok kesiangan ? mimpi apa seh kok enak banget tidurnya?” ibu membangunkanku. Sinar matahari yang tembus dari jendela kamarku, membuatku tersadar penuh bahwa aku benar-benar bermimpi.
“ ibu, udah lama ya di sini, ra kesiangan lagi ya..?” Ibu hanya tersenyum melihat tingkahku yang seperti orang bingung.
Apa maksud dari mimpi aku ini ? tentang kepergiannya ? bintang laut ? dan semua yang terjadi di dalam mimpi tadi. Akhh mungkin aku terlalu memikirkannya dan berharap untuk bisa bertemu dengannya lagi, meskipun sebenarnya di dalam hati kecilku berkata andai mimpi ini adalah kenyataan.
***
Seminggu setelah kejadian mimpi itu, aku masih saja memikirkannya. Mengapa harus mas dion ? apa maksud dari ucapannya ? apa maksud kenangan berupa bintang laut itu ? pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikiranku.
“ ra .. kamu ingat kan sama dion anaknya tante yuli ?” Tegg..jantungku berdegup tiba-tiba mendengar ibu menyebut nama mas dion. Seakan ibu tahu apa yang sedang aku pikirkan.
“ iya,,emang ada apa bu ?” aku mencoba menutupinya
“ dia mau nikah lho, tadi bu Yuli ceita sama ibu, bahwa minggu depan dia akan melangsungkan pernikahannya itu, calon istrinya seorang dokter lagi.” Ibi bercerita
“ masa’ sih bu, gak mungkin deh...ehh oh gitu yaa,,hehe alhamdulillah deh kalo gitu.” Aku kaget banget setelah mendengar cerita ibu, mas dion mau menikah dengan seorang dokter ? arrghh aku kenapa ? masih belum bisa menerima kenyataan yang sebenarnya aku saat itu hanya bermimpi, Ya Allah sadarkan hambamu ini. Aku mencoba menyadarkan.
“ kamu kenapa sayang kok jadi aneh gitu ? oh iya tadi tante Yuli juga udah memberikan undangan pernikahan anaknya.”
“ gak apa-apa bu, ra seneng dengarnya .“
Suatu keadaan yang membuatku kembali drop, harus merasa kehilangan mskipun kenyataan semuanya hanya mimpi, aku meyakinkan hatiku bahwa semua itu adalah hanya mimpi, dan aku harus terima itu. Meskipun hanya sekali bertemu ,tapi aku merasakan ada sesuatu yang tak bisa aku ungkapkan. Bintang laut itu juga hanya sebuah mimpi tetapi dion tetap menjadi bintang hatiku, aku tidak bisa menjelaskan untuk yang satu ini.
“ mas dion, i still in your heart ,because my star is you. Don’t forget me.” Te
Tidak ada komentar:
Posting Komentar